Ulama: Ke Depan, Aceh Harus Lahirkan Pemikir Islam

Foto: muhakbarilyas

Banda Aceh, Sayangi.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh Tgk H Muhammad Daud Zamzami mengatakan ke depan, daerahnya harus mampu melahirkan kembali pemikir-pemikir Islam.

“Kondisi hari ini memprihatinkan dengan makin berkurangnya para pemikir Islam yang mampu melahirkan karya-karya besar,” katanya di sela-sela menyampaikan khutbah iftitah pembukaan pendidikan kader ulama III angkatan XIX/2013 di Aceh Besar, Sabtu (2/11/2013).

Ia juga menilai kondisi hari ini lebih memprihatinkan bahwa masyarakat sekarang justru lebih tertarik dengan Ilmuwan Barat ketimbang berasal dari kalangan muslim.

Disebutkan, banyak perguruan tinggi di Aceh, tapi belum ada yang mampu melahirkan karya sendiri seperti yang dilakukan orang luar, termasuk di bidang agama. Karya fenomenal para ilmuwan muslim terdahulu hanya menjadi gambaran romantisme sejarah masa lalu.

“Umat Islam saat ini belum mampu menemukan wujud jatidirinya sebagai penggerak peradaban seperti yang pernah berjaya beberapa abad lalu. Kini, umat Islam hanya bisa disuguhi karya-karya yang kering ruh spiritual,” kata Muhammad Daud Zamzami.

Oleh karena itu, MPU Aceh berkeinginan mengatasi masalah tersebut melalui program pengkaderan ulama meski hasilnya kurang sempurna seperti yang telah dilakukan ulama-ulama Aceh terdahulu sebut saja Tgk Hasan Krueng Kalee dan Abuya Muda Waly Al-Khalidy.

“Melalui program MPU berupa pengkaderan ulama itu maka sangat diharapkan kedepan dari Aceh mampu melahirkan pemikir-pemikir Islam dan bisa melanjutkan estafet seperti ilmuan muslim yang terdahulu,” katanya menambahkan.

Sementara itu, Sekretaris MPU Aceh Saifuddin Puteh mengatakan daerahnya pernah mendapat gelar terhormat dari umat Islam Nusantara, yakni sebagai wilayah Serambi Mekah karena suasana kehidupan yang penuh bernuansa keagamaan, keimanan, dan ketaqwaan.

Dilaporkan Antara,terdapat beberapa penilaian Aceh menyandang daerah Serambi Mekah ini. Di antaranya wilayah pertama masuknya Islam ke Indonesia. Kemudian Aceh pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan di Nusantara dengan hadirnya “Jami’ah Baiturrahman”.

Selanjutnya, pada masa Kerajaan Aceh Darussalam pernah mendapat pengakuan dari “Syarief Makkah” atas nama Khalifah Islam di Turki. Aceh juga pernah menjadi pengkalan pelabuhan haji untuk calon haji dari nusantara, selain banyak persamaan dengan Makkah (Arab Saudi).

Di pihak lain, Saifuddin menyebutkan sebanyak pendidikan kader ulama III angkatan XIX 2013 itu diikuti sebanyak 40 orang yang direkrut dari para santri pondok pesantren sejumlah kabupaten dan kota di Aceh.