Memangnya, Pancasila Bisa Kasih Kita Makan?

Foto: Setkab

Jakarta, Sayangi.com – Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam meyakini, ada kaitan erat antara revitalisasi nilai-nilai Pancasila dengan kondisi ekonomi bangsa. Bila ekonomi tidak membaik, rakyat justru akan mempertanyakan relevansi revitalisasi nilai-nilai Pancasila terhadap kehidupan nyata.

“Revitalisasi dan memasyarakatkan nilai-nilai Pancasila bisa bersemai baik bila realitas ekonomi baik. Itu salah satu prasyarat,” ujar Dipo, seperti bisa dibaca di laman Sekretariat Kabinet (Setkab).

Dipo melihat ke belakang, ketika masa kepemimpinan Presiden Soekarno dengan Demokrasi Terpimpin, setelah 22 tahun perekonomian Indonesia kurang maju karena politisasi Nasakom. Saling sikut-sikutan sampai terjadi krisis pada 1965.
Kemudian, Soeharto yang menggantikan Soekarno tampil dengan Demokrasi Pancasila. Namun setelah 32 tahun menjabat, tahun 1998 terjadi krisis moneter Asia, ekonomi memburuk, sehingga mahasiswa dan rakyat meminta reformasi.

“Itulah, bila nilai Pancasila dijajakan ke rakyat dengan cara dogmatis, jauh dari realitas, sementara ekonomi memburuk, yang muncul adalah pertanyaan apakah Pancasila bisa kasih makan?” kata Dipo Alam.

Mengenai Indonesia Pascareformasi, Dipo Alam menambahkan, secara bertahap ekonomi terus dimajukan agar nilai-nilai Pancasila juga berkembang. Ia menyebut nilai APBN 2014 sebesar Rp 1.842,4 triliun, naik hampir 5 kali lipat dibandingkan APBN 2004-2005 (Rp 400 triliun). Ia juga berharap angka kemiskinan turun dari 17% (2004) menjadi 11,6% (2013), diikuti turunnya pengangguran dari 10% (2004) menjadi 5,92% pada tahun ini.

Dipo minta pilar-pilar demokrasi: ekseutif, legislatif, yudikatif, media, LSM, buruh, petani, nelayan, pemuda, mahasiswa, dan para agamawan tidak mengingkari kenyataan-kenyataan itu. “Jangan ada dustra diantara kita,” tutupnya. (MSR)