Pemimpin Taliban Pakistan Tewas Dibunuh AS

Foto: BBC

Waziristan, Sayangi.com – Pemimpin kelompok Taliban Pakistan, Hakimullah Mehsud dikabarkan tewas akibat serangan pesawat tidak berawak AS, demikian diungkapkan seorang petinggi Taliban kepada BBC.

Empat orang lain ikut tewas dalam serangan tersebut, termasuk dua orang pengawal Mehsud, demikian sumber intelijen mengatakan. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan pernyataan mengutuk serangan pesawat tidak berawak, dan menyebutnya sebagai “pelanggaran atas kedaulatan Pakistan.”

Hakimullah Mehsud dilaporkan tewas sehari sebelum pejabat Pakistan menjadwalkan untuk mengirim tim untuk memulai perundingan damai dengan Taliban. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Chaudhry Nisar mengatakan kepada saluran berita TV lokal, Geo, bahwa serangan ini merupakan “sabotase” upaya pembicaraan damai dengan Taliban Pakistan.

Seorang pejabat intelijen senior AS mengatakan kepada Kantor berita AP bahwa AS menerima konfirmasi bahwa pada Mehsud telah tewas pada Jumat pagi. Namun demikian, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan “kami tidak dalam posisi untuk mengkonfirmasi laporan tersebut, tetapi jika benar, ini akan menjadi kerugian besar bagi Taliban…”
 
Wartawan BBC James Robbins mengatakan, walaupun kematian Mehsud barangkali akan melemahkan Taliban, namun mereka akan tampil kembali dengan pemimpin baru. Mehsud, yang berusia 30-an tahun, diyakini sebagai pimpinan Taliban Pakistan yang paling dicari. Dia telah berulangkali dilaporkan tewas sebelumnya.

Hakimullah Mehsud mulai dikenal pada 2007, sebagai komandan di bawah pimpinan Taliban Baitullah Mehsud, dengan berhasil menangkap 300 anggota tentara Pakistan.

Pada bulan Januari 2010 dia makin dikenal dengan tampil di video bersama seorang warga Yordania yang dikatakan telah melakukan aksi bom bunuh diri, yang menewaskan tujuh orang agen CIA di Afghanistan. Mehsud dipercaya menjadi pemimpin Taliban di Pakistan pada 2009, saat dia berusia 30 tahun, setelah Baitullah Mehsud tewas dalam serangan pesawat tidak berawak AS. (MSR/BBC)

Berita Terkait

BAGIKAN