Belum Disahkan, RAPBD Maluku Sudah Defisit Rp 123,33 Miliar

Ilustrasi foto: dzinepress.com

Ambon, Sayangi.com – Rancangan perubahan APBD Maluku tahun 2013 ditargetkan akan mengalami defisit sebesar Rp 123,33 miliar.

“Ini akibat anggaran belanja dalam perubahan RAPBD mencapai Rp 1,74 triliun, sedangkan gambaran perubahan pendapatan daerah awalnya hanya sebesar Rp 1,62 triliun dengan nilai defisit yang ditargetkan sebesar Rp 12,70 miliar,” kata Penjabat Gubernur Maluku, Saut Situmorang di Ambon, Minggu.

Besarnya nilai anggaran belanja daerah ini dipicu oleh peningkatan anggaran belanja tidak langsung seperti belanja hibah sebesar Rp 59,31 miliar dan bantuan keuangan kepada Pemerintah Kabupaten dan Kota, termasuk Pemerintahan Desa sebesar Rp 3,91 miliar, belanja pegawai Rp 3,83 miliar, dan belanja bunga Rp 179,71 juta.

Saut mengatakan, untuk belanja langsung dalam rancangan perubahan APBD Maluku tahun 2013 juga mengalami kenaikan dari Rp 504,44 miliar menjadi sebesar Rp 717,87 miliar (18,77 persen). Peningkatan belanja langsung ini diarahkan pada program dan kegiatan yang mendesak dan urgen seperti penanganan pascabencana alam serta penyelesaian masalah pengungsi yang belum terselesaikan dan adanya peningkatan sarana-prasarana pelayanan publik.

“Dari gambaran perubahan pendapatan daerah tahun 2013 yang sebesar Rp 1,62 triliun, jika dibanding dengan perubahan belanja daerah sebesar Rp 1,74 triliun, maka terjadi peningkatan defisit anggaran dari Rp 12,70 miliar menjadi Rp 123,33 atau meningkat 871,33 persen dalam rancangan perubahan APBD 2013,” katanya.

Selanjutnya untuk pembiayaan daerah yang merupakan transaksi keuangan untuk menutup defisit anggaran ini antara lain, pada sisi pembiayaan yang merupakan penerimaan daerah bersumber dari sisa lebih penghitungan anggaran (Silpa) 2012 yang semula diperkirakan sebesar Rp 37,03 miliar.

Namun berdasarkan hasil penghitungan APBD tahun 2012 meningkat jadi Rp 153,84 miliar atau naik 315,39 persen.

Kemudiaan pembiayaan yang merupakan pengeluaraan daerah semula ditetapkan sebesar Rp 24,34 miliar, tapi dalam perubahan ini dirancang bertambah sebesar Rp 6,17 miliar (25,35 persen).

Pertambahan pengeluaran pembiayaan daerah ini disebabkan adanya pembentukan dana cadangan dan penambahan pembayaran pokok utang yang jatuh tempo.

“Dari gambaran perubahan pembiayaan tersebut, maka terdapat pembiayaan netto sebesar Rp 123,33 miliar, sehingga defisit dalam rancangan perubahan APBD 2013 sebagai akibat dari pelampauan kebutuhan belanja terhadap kemampuan pendapatan daerah dapat ditutupi oleh surplus pembiayaan tersebut,” kata Saut. (MSR/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN