Ada Spekulan di Balik Molornya Pembangunan Tol JORR W2

Foto : Antara

Jakarta, Sayangi.com – Pembangunan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) Kebon Jeruk-Ciledug masih terkendala pembebasan lahan. Sebab, sebagian warga masih enggan tanahnya dibebaskan dengan meminta ganti rugi yang lebih besar. Penolakan warga ini diduga akibat ulah oknum atau mafia tanah yang ingin mengeruk keuntungan dari ganti rugi proyek tersebut. Padahal operasional tol yang dibangun sejak 2011 telah dinanti oleh masyarakat karena dapat mengurangi kemacetan.

Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), Azas Tigor Nainggolan menduga ada mafia tanah dibalik warga yang tetap mempertahankan tanahnya. Karena itu, dia menyarankan jika sudah tidak ada jalan keluar, Pemprov DKI Jakarta bisa menggunakan undang-undang untuk memperlancar proses pembebasan lahan. “Bisa saja dititipkan ke pengadilan untuk pembayarannya, karena ini memang untuk kepentingan publik,” kata Azas ketika dihubungi, Minggu (3/11).

Dia mengatakan, harusnya masyarakat bisa melihat proyek JORR ini juga bagi kepentingan publik. Namun jika tetap menolak, pihak pengembang dan pemerintah diharapkan agar terus melakukan pendekatan dengan warga. “Ini bisa saja komunikasi antara pengembang serta pemerintah ke warga kurang baik,” ujarnya.

Ia menyebutkan dengan beroperasinya JORR W2 bisa menjadi alternatif kendaraan berat melintas. Sehingga kendaraan berat seperti truk dan kontainer tidak lagi melintas melalui dalam kota. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap arus lalu lintas di ibu kota. “Padahal ini juga bisa mengurangi kemacetan di Jakarta,” ucapnya.

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Aliman Aat meminta Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo turun tangan menyelesaikan masalah ini. Terlebih, Jokowi telah membuktikan mampu menyelesaikan masalah pedagang kaki lima (PKL) di sekitar pasar Tanah Abang yang direlokasi ke Blok G, kemudian pemindahan warga di Waduk Pluit ke rumah susun sewa sederhana (rusunawa). “Urusan Waduk Ria Rio, Blok G, Pak Jokowi bisa menyelesaikan. Untuk urusan ini juga harus turun,” ucapnya.

Dirinya juga melihat ada upaya oknum yang berusaha menghambat pembangunan JORR W2 ini. Sebab, kasus ini sudah berlarut-larut. Terlebih, untuk menentukan harga tanah, Pemprov DKI Jakarta telah menggunakan tim appraisal. “Untuk memberikan fasilitas publik memang harus ada yang dikorbankan. Tapi ini kan juga diganti rugi bahkan sudah ada tim appraisal,” ucapnya.

Dirinya berharap agar masalah ini dapat segera diselesaikan. Karena dengan beroperasinya tol JORR W2 ini dapat menggurangi kemacetan di Jakarta. “Harus ada upaya persuasif lagi, kita harapkan dapat segera diselesaikan,” katanya.

Seperti diketahui, tol JORR W2 Kebon Jeruk-Ciledug sepanjang 7 kilometer rencananya dapat dilintasi oleh umum pada akhir 2013 ini. Saat ini prosesnya sedang dalam tahap merapikan. Tahap itu meliputi penyelesaian perangkat rambu lalu lintas, pemasangan mesin di seluruh gardu tol, pelapisan, pemasangan marka jalan, dan landscaping atau pemberian tanaman di sepanjang jalan tol. Selain itu juga, masih menunggu Surat Keputusan (SK) Menteri Pekerjaan Umum dan pemeriksaan oleh Badan Pengatur Jalan Tol.

Dengan beroperasinya tol ini, nantinya dari Kebon Jeruk ke Ciledug bisa ditempuh dengan waktu 25 menit. Sementara untuk arah pergi pulang hanya membutuhkan waktu satu jam. Untuk melintas di ruas tol tersebut, setiap mobil dikenakan Rp 7.500. Pintu keluar di tol Kebon Jeruk-Ciledug akan ada di Meruya, Joglo, dan Ciledug di dua sisi.

Proyek ini sudah dimulai sejak 21 Oktober 2011 dan terbagi empat paket dengan total investasi Rp 2,2 triliun. Paket pertama dari Kebon Jeruk-Meruya, sedangkan paket kedua Meruya-Joglo. Paket Kebon Jeruk-Joglo ini berjarak sekitar 4 km. Kemudian, paket ketiga adalah Joglo-Ciledug, dan paket keempat adalah Ciledug-Ulujami.

Permasalahan pembebasan lahan berada di paket keempat. Setidaknya 130 warga Petukangan masih bertahan memiliki lahan seluas 2,28 hektar. Dengan beroperasinya JORR W2, kemacetan jalan dalam Kota Jakarta, khususnya tol dalam kota, diharapkan akan berkurang secara signifikan. Hal itu karena ruas tol tersebut akan tersambung dengan JORR W1 (Penjaringan-Kebon Jeruk) di sisi utara dan JORR W2 Utara Selatan (Ulujami-Pondok Indah). Untuk bus DAMRI airport dari Bekasi bisa lewat JORR lalu melewati JORR W2 dan berakhir di Bandara Soekarno Hatta. Begitu juga dengan arus kendaraan berat, tak perlu lagi melewati tol dalam kota.

Proyek JORR W2 dikerjakan oleh empat kontraktor, yakni PT Wijaya Karya, PT Adhi Karya, PT Waskita Karya, dan PT Jaya Konstruksi. PT MLJ sebagai pemegang konsesi ruas itu sahamnya dimiliki 65 persen oleh PT Jasa Marga Tbk dan 35 persen oleh PT Jakarta Marga Jaya, anak usaha PT Jakarta Propertindo (BUMD DKI Jakarta). Proyek pembangunan JORR-W2 ruas Kebon Jeruk-Ulujami diperkirakan menelan dana investasi senilai Rp 2,2 triliun.

Tol akan membentang sepanjang 7,7 kilometer ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan di tol dalam kota karena pengguna jalan dari arah Bogor ataupun Cibubur menuju Bandara Soekarno-Hatta tidak perlu lagi melewati tol dalam kota ruas Cawang-Tomang. Diperkirakan, akan ada 90.000 kendaraan per hari yang melewati JORR-W2. (MD/bj)