Ramadhan Nilai Penyadapan AS & Australia Memang Ada

Foto: sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com –  Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Ramadhan Pohan mengecam penyadapan yang dilakukan pemerintah Australia dan Amerika Serikat terhadap Indonesia. AS dan Australia sudah menjalin bilateral tertinggi dengan Indonesia. Namun, dengan penyadapan itu, berarti AS dan Australia tidak konsisten bersahabat Indonesia.

“Persahabatan dan kemitraan yang selama ini ada ternyata palsu, sandiwara, basa-basi. AS dan Australia mengabaikan peran sentral Indonesia dan Asean di Asia Pasifik. Mustahil kawasan ini dibangun dengan mistrust and suspicion,” kata Ramadhan kepada Sayangi.com, Jumat (8/11).

Seperti diketahui, dokumen Edward Snowden tentang penyadapan AS dan Australia terhadap pemimpin, pejabat manca negara termasuk Indonesia, membuat dunia tersentak. Tidak adanya bantahan dari Australia dan AS, menurut Ramadhan, mengindikasikan bahwa penyadapan itu benar adanya.

“Saya kecewa dan protes keras kepada pemerintah AS dan Australia. Konvensi Vienna  menentukan code of conduct yang menjadi hukum internasional  bahwa fungsi Kedutaan adalah mendorong kerjasama atau memajukan kepentingan nasional. Bukan untuk menyadap. Penyadapan itu hina,” katanya.

Dikatakan Ramadhan, kedutaan AS dan Australia tidak boleh jadi pusat dan sarana penyadapan terhadap Indonesia, seperti dokumen Snowden. Dengan alasan itu, Ramadhan, mengecam peristiwa penyadapan itu. Ramadhan kemudian meminta pemerintah bersikap dan menunjukkan jika negeri ini tidak butuh mereka.

“Kita memerlukan mitra, bukan pendusta apalagi penista. Di era reformasi dan IT, RI telah menjadi sangat terbuka, mencari informasi sangat mudah karena semua  jelas. Info apapun dapat diperoleh dari sumber terbuka, atau setengah terbuka. Penyadapan itu short cut dalam mencari info dan hina nista dalam diplomasi. Penyadapan itu simbol keterbatasan atau low quality SDM. Memalukan jika AS dan Australia mau melakukannya,” katanya.

Jika AS dan Australia tidak minta maaf, Ramadhan ingin DPR mendesak Pemerintah RI meninjau ulang hubungan dan kerjasamanya dengan kedua negara itu, termasuk kerjasama dalam kemitraan strategisnya. Sebab, masih banyak negara lain, seperti China, Rusia. Jerman dan lain-lain yang bisa menggantikan posisi AS-Aussie. (GWH)

Berita Terkait

BAGIKAN