Arbi Sanit: Nasib Jokowi Tergantung Hasil Pileg PDIP

Pakar politik Arbi Sanit yakin rakyat Indonesia akan menerima jika Gubernur DKI Jakarta maju menjadi calon presiden pada Pemilu 2014.

“Secara formal ketatanegaraan, memang Jokowi harus memenuhi janji menjadi gubernur DKI untuk masa jabatan 5 tahun. Tapi di sisi lain, bangsa Indonesia secara nasional butuh pemimpin yang punya kemampuan, kemauan serta punya dukungan luas seperti Jokowi. Jadi tak ada masalah jika Jokowi menjadi calon presiden,” ujar Arbi Sanit dalam wawancara khusus dengan Sayangi.com , di Jakarta, Kamis (7/11).  

Berikut petikan wawancara selngkapnya:

Sampai saat ini PDIP belum juga mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden. Menurut Anda apa penyebabnya?

Mungkin PDIP masih ragu apakah dalam pemilu legislatif 2014 nanti dapat memperoleh kursi DPR 20% apa tidak. Saya memprediksi, kalau bisa meraih kursi 20%, PDIP akan mengajukankan Megawati Soekarnoputri sebagai capres. Sedangkan Jokowi akan dijadikan cawapres.

Kalau prolehan kursi legislatif PDIP di bawah 20%?

Kalau hanya memperoleh kursi DPR RI di bawah 20%  PDIP akan menjadikan Jokowi sebagai calon presiden. Calon wapresnya bisa kader PDIP atau tokoh lainnya seperti Jusuf Kalla atau Mahfud MD.

Prediksi dukungannya lebih besar mana: Jokowi sebagai capres atau sebagai cawapres?

Kalau Megawati jadi capres dan Jokowi jadi cawapresnya, akan meraih lebih dari 50% lebih pemilih. Tapi kalau Jokowi sebagai capresnya, dukungan yang diperoleh akan mencapai lebih dari 60%.

Menurut Anda, apa yang membuat Jokowi punya elektabilitas sangat tinggi?

Yang pertama adalah penampilannya. Jokowi merupakan tokoh yang penampilannya sangat sederhana. Tampangnya nggak  jauh dengan rakyat Indonesia kebanyakan. Lugu. Inilah yang membuat Jokowi mudah mendekati rakyat dan rakyat pun merasa dekat dengan Jokowi.

Kedua, langkah Jokowi cekatan. Ia cepat mengambil keputusan.  Walaupun baru menjabat 1 tahun, tetapi sudah banyak yang ia lakukan: pembenahan pasar Tanah Abang, pedagang kaki lima, MRT, monorel, dan pembenahan sejumlah danau.  Walaupun belum semua selesai, sudah banyak yang ia kerjakan dalam waktu setahun. Ini berbeda dengan gubernur sebelumnya, Fauzi Bowo. Fauzi Bowo dengan anggaran Rp 40 triliun hanya dapat membangun 2 buah jalan layang non tol. Itu pun tidak selesai.

Kalau Jokowi menjadi calon presiden, apakah tidak melanggar sumpah dia untuk menjabat selama 5 tahun sebagai gubernur DKI?

Ya itu secara konstitusional ada masalah. Tapi persoalannya, bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin seperti dia. Kita butuh pemimpin yang punya kemampuan dan kemauan, serta punya dukungan luas. Kalau Jokowi menjadi calon presiden, rakyat Indonesia akan merelakan dia meninggalkan kursi gubernur demi kepentingan nasional yang lebih besar. Untuk urusan Jakarta bisa diserahkan ke Ahok (Basuki Tjahaja Purnama, red).

Tapi, masih banyak yang meragukan kemampuan Jokowi dalam menangani masalah-masalah yang sifatnya nasional atau menyangkut urusan luar negeri?

Pertanyaan saya, apakah kandidat lain seperti Megawati, Prabowo, Mahfud MD dan JK ada jaminan mampu dengan cepat menangani masalah itu? Tidak juga kok. Jokowi sudah terbiasa bekerja cepat, cekatan mengambil keputusan, dan pandai berkomunikasi. Jadi tak perlu ada keraguan terhadap kemampuan Jokowi.