Der Spiegel Sebut Jokowi Paduan Mandela dan Harun Al-Rasyid

Foto: Der Spiegel

Jakarta, Sayangi.com – Pesona Gubernur DKI, Joko Widodo alias Jokowi mulai menyeberang jauh melewati batas lautan. Setelah beberapa waktu lalu koran Jepang Asahi Shimbun dan New York Times membuat tulisan khusus tentang Jokowi, kini giliran majalah Jerman terkemuka Der Spiegel. Dalam edisi online-nya hari ini, Der Spiegel menyebut Jokowi sebagai lelaki berkarakter “aneh”, yang menjelma menjadi tokoh penting di Indonesia dan Asia.     

Di artikel bertajuk “Where Allah Rocks: Indonesia’s Tolerant Take on Islam” itu, Erich Follath sang penulis tampaknya rada heran dengan “percampuran” yang ada dalam karakter Jokowi.

Kata Follath, Jokowi kadang berperilaku seperti Khalifah legendaris di zaman kejayaan Islam, Harun al-Rasyid, yang suka keluar dari istananya di Baghdad pada malam hari untuk berbaur dengan orang biasa, dan mempelajari apa yang mereka pikirkan. Di sisi lain, kadang Jokowi menjelma bak Nelson Mandela yang charming dan selalu tampil optimistis.

Tulis Spiegel, “Tak heran jika Jokowi kemudian menjadi bintang pop yang menginspirasi banyak orang. Dia Gubernur Jakarta, kota megapolitan yang terus-menerus terancam banjir. Bahkan, para ilmuwan percaya bahwa sebagian besar Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050.”

Meski setelah setahun menjabat, Jabodetabek tetap berpredikat salah satu kota “paling semrawut” di dunia, jajak pendapat tak pernah menyalahkan Jokowi. Survei menunjukkan, masyarakat menganggap Jokowi telah melaksanakan tugasnya dengan baik selama setahun ini, sehingga banyak diantara mereka menginginkan Jokowi mengemban amanat yang lebih berat, menjadi Presiden.

Meskipun tengah mengalami krisis ekonomi, Indonesia masih diperhitungkan sebagai salah satu calon macan ekonomi. Kata Spiegel, Indonesia memiliki cadangan minyak dan gas alam yang cukup, eksportir terbesar minyak sawit, dan memiliki hubungan baik dengan Washington, Beijing, dan Berlin. Kementerian Pertahanan Jerman baru-baru ini bahkan setuju menjual tank Leopard ke Indonesia, di tengah protes terhadap dugaan perlakuan brutal militer Indonesia di Papua.

Kanselir Jerman Angela Merkel, kata Spiegel, juga sangat antusias dengan menyebut Indonesia sebagai negara yang memiliki perekonomian dinamis dan berorientasi masa depan, dan memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Fakta lain yang menarik, bilang Spiegel, data bahwa hampir 90% dari 250 juta penduduk Indonesia beragama Islam, menjadikannya sebagai negara Islam terbesar di dunia, mengungguli Mesir, Tunisia, Libya, dan Arab Saudi.

Spiegel mencatat sejumlah serangan yang dilakukan kubu Islam fanatik, paling fenomenal pemboman di Bali yang menewaskan 202 orang pada tahun 2002. Namun Spiegel percaya, terorisme itu pengecualian, karena sebagian besar orang Indonesia memiliki toleransi beragama yang baik.

Mereka yang percaya bahwa Islam dan pluralisme tidak harus menjadi dua hal yang bertentangan, menaruh harapan besar pada Gubernur Jokowi. Jokowi sendiri menggambarkan dirinya sebagai seorang Muslim yang taat, namun tidak menjadikan agama itu sebagai retorika, baik dalam pidato maupun tindakannya. Apalagi ia memilih Wakil Gubernur yang masih muda, berusia 47 tahun, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, yang berasal dari kalangan minoritas – etnis Cina dan beragama Kristen.

Suatu hari, Spiegel mengikuti perjalanan blusukan Jokowi sejak pagi, pukul 07.00 WIB. Jokowi mendadak mengunjungi sebuah daerah kumuh di Jakarta Selatan, yang kotor dan penuh polutan. Jokowi hanya mengenakan celana jins, t-shirt, dan topi bisbol. Ia datang ditemani seorang asisten, tanpa rombongan atau pengawalan polisi.

Spiegel mendapati Jokowi kesal, lantaran tidak mendapati Lurah atau Camat yang tidak berada di tempat saat jam kerja. Padahal, para perangkat birokrasi itu harus melayani pembuatan akte kelahiran, paspor, dan dokumen-dokumen lainnya. Jokowi menghadapi inefisiensi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Nyaris tak ada kantor pelayanan yang buka tepat waktu dan petugasnya siap di tempat. Jokowi tak segan-segan mengirim surat peringatan hingga ancaman pemecatan.

Jokowi, tambah Spiegel, rajin mendengarkan suara warga, saat mereka mengeluh masalah suap-menyuap, dan perlakuan aparat. Dia kerap melontarkan komentar santai tapi simpatik. Tak jarang ada kelompok masyarakat yang dibuatnya marah, tapi kebanyakan rakyat akhirnya mau mendengarkan, karena mereka “menemukan” bahwa Jokowi adalah salah satu dari mereka. Atau setidaknya, Jokowi hanyalah orang biasa, tetangga semua warga. Di sini, Jokowi benar-benar seperti Khalifah Harun Al-Rasyid.

Jokowi dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah. Ayahnya seorang tukang kayu yang harus menabung sen demi sen untuk menyekolahkan anak-anaknya. Jokowi belajar di Fakultas Kehutanan UGM, lantas menjadi pembuat mebel. Namun teman-temannya menyarankan agar ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota di kota kelahirannya, Surakarta, kota berpenduduk sekitar setengah juta orang.

“Mereka rupanya terkesan dengan komitmen saya untuk transparansi dan melawan KKN,” bilang Jokowi bangga, saat ia memenangkan kursi Wali Kota dengan lebih dari 90% suara. Seiring waktu, kepemimpinan Jokowi mencuat hingga mancanegara, ketika ia dinobatkan sebagai Wali Kota paling efektif ketiga di dunia oleh sebuah institusi internasional. Sampai akhirnya, pada Oktober 2012, dia dilantik menjadi Gubernur Jakarta. Kemenangan yang seolah menjadi kemenangan rakyat dan kemenangan kelompok antikemapanan.

Setahun setelah berkuasa, hanya sedikit warga Jakarta yang mengakui Sang Gubernur belum banyak memenuhi janji-janji yang ducapkannya saat kampanye, terkait masalah kemacetan dan banjir. Namun di setiap pemunculannya di depan publik, Jokowi selalu berhasil meyakinkan masyarakat bahwa semuanya bisa berubah. “Harus ada orang yang mau melakukan sesuatu untuk menyelesaikan problema Jakarta,” tegas Jokowi. Ia menyatakan itu di depan massa yang sebelumnya bak putus asa melihat semrawutnya Jakarta.

Pungkas Der Spiegel, optimisme itu yang membuat Jokowi menjadi idola. Gesturenya seolah menyiratkan kata, “Saya tidak akan mengecewakan Anda!” Jokowi pun menjelma menjadi Mesias, menjabat tangan rakyat, mencium bayi miskin, dan duduk di rumput bersama akar rumputnya. Dia simbol yang menyatukan, bukan memecah belah. Dia mengusung reformasi, yang berpijak pada kepercayaan diri dan integritas pribadinya. Pada sisi ini, Jokowi benar-benar mirip Nelson Mandela. (MSR)