Dari 150, Ternyata Pahlawan Nasional Wanita Hanya 12 Orang

Foto: sayangi.com/istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Peneliti sejarah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam mengatakan jumlah pahlawan nasional saat ini mencapai 150 orang. Namun dari jumlah itu pahlawan nasional wanita di bawah 10 persen.

“Jumlah pahlawan nasional dari kalangan wanita hanya 12 orang atau kurang 10 persen dari jumlah pahlawan nasional saat ini. Namun herannya, pemerintah seakan-akan tak peduli dengan pahlawan nasional dari kalangan wanita ini, padahal wanita juga berperan dalam mengisi kemerdekaan,” kata Asvi dalam diskusi tentang ‘Kriteria Gelar Pahlawaaan Nasional di Era Masa Kini’, yang digelar Tunas Indonesia Raya (Tidar), di Jakarta, Jumat (8/11/2013) malam.

Ia berharap pemerintah juga memikirkan pahlawan nasional dari kalangan wanita.

Menurut dia, jumlah pahlawan nasional di Indonesia merupakan jumlah terbanyak dibandingkan negara lain. Jumlah pahlawan nasional di Thailand dan Prancis tak sebanyak jumlah pahlawan nasional di Indonesia.

“Thailand kesulitan untuk mencari pahlawan nasional karena mereka tak pernah terjajah. Di Prancis pun jumlahnya tak sampai 100 orang,” katanya.

Asvi mengatakan, pengangkatan pahlawan nasional hendaknya memiliki tujuan, yakni menghargai jasa, menumbuhkan semangat kepahlawan dan menciptakan keteladanan bagi masyarakat. Sebab ada di beberapa daerah pengangkatan seseorang menjadi pahlawan nasional hanya untuk kepentingan tertentu.

“Seseorang yang akan diangkat sebagai pahlawan nasional adalah orang yang berjasa kepada bangsa dan negara, berkelakuan baik (tidak korupsi), berjuang untuk kemerdekaan, memiliki karya besar dan berdampak nasional,” tuturnya.

Ketua Umum Tidar, Aryo Djojohadikusumo, seperti dilaporkan Antara menuturkan, di era sebelumnya, tokoh yang diberikan gelar pahlawan nasional merupakan tokoh yang ikut berjuang merebut kemerdekaan. Namun, di era saat ini, perlu perubahan kriteria pahlawan.

“Situasi saat ini tentu berbeda. Oleh sebab itu, apakah kriteria pahlawan yang berlaku saat ini masih relevan. Apakah budayawan hingga olahragawan perlu dipertimbangkan jadi pahlawan nasional?,” ucap Aryo.

Ia menambahkan, banyak budayawan dan olahraga yang memiliki jasa bagi kemajuan bangsa Indonesia.