Camel Petir: Saya Tau yang Rakyat Mau

Foto: Sayangi.com/Hurri

Jakarta, Sayangi.comDunia politik dikenal sebagai dunia kejam.  Di sana, kawan bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan. Kendati demikian, hal itu tidak membuat nyali para artis surut. Mereka banyak yang tertarik mamasuki dunia politik untuk memperbaiki sistem yang ada. Salah satu contohnya adalah  Camelia Panduwinata Lubis atau akrab disapa Camel Petir yang menjadi Caleg nomor urut 3 dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Dapil DKI II, Jakarta. Berikut petikan wawancara Hurri Rauf dari Sayangi.com dengan Camel Petir, Sabtu (9/11).

Kenapa Anda tertarik memasuki dunia politik?

Saya tidak tertarik. Saya terpanggil karena saya geram melihat politik sekarang. Mungkin dengan kepolosan saya dan ketidakpinteran saya di bidang politik bisa membawa aura baru yang positif.  Karena saya bosan melihat orang pintar tapi dimanfaatkan untuk pintar bohong, pinter korupsi dan lain-lain. Dan sebelum terpanggil awalnya karena saya diminta tolong untuk menggantikan posisi anak Bang Yos (Sutiyoso), mbak Reni karena tengah hamil dan mau melahirkan.

Saat diajak, apakah Anda tidak berpikir terlebih dahulu?

Saya pikir-pikiir dulu. Saya diminta di Gerindra untuk wilayah sumut 1, kemudian juga diminta PAN di wilayah sumut 1 juga , akhirnya berjodoh di PKPI di DKI II.

Apakah Anda sudah minta pertimbangan keluarga?

Saya pikir pada saat itu ada apa ini ya Allah, apakah sudah saatnya saya maju. Jujur papa dan mama tidak setuju. Yang sangat mendukung teman-teman di medan, teman-teman di organisasi dulu. Saya dulu aktif di BEM Al-Azhar sebagai wakil presiden kampus, pendiri GAGAK (gerakan Aku Geram Korupsi), PMII, Putri Inteligensia Medan, atlit taekwondo Medan.

Kenapa keluarga Anda tidak setuju?

Kata papa politik itu kejam, terus nanti uang Camel habis.  Tapi saya jelaskan lagi ke papa dan mama bahwa saya diminta tolong menggantikan Reni, anak Bang Yos. Masa orang minta tolong kita tolak?

Anda sepertinya sudah faham betul tentang politik tanah air?

Saya tahu bukan faham. saya tahu yang masyarakat mau, karena saya masyarakat juga. Saya cuma ingin menyampaikan apa yang masyarakat mau, itu saja.

Memang masyarakat maunya apa? Apakah anda sudah siap 100 persen menjadi representasi masyarakat di legislatif?

Saya sama sekali nothing to lose. Kalau saya jabarkan pasti banyak yang masyarakat mau. Sekarang pun pejabat tahu kok apa yang masyarakat mau. yang jelas saya pernah menjajdi atlit. Mungkin saya akan fokus di bidang seni dan olahraga (kalau terpilih jadi DPR, red). Saya tahu rasanya atlit hidup seperti apa nasibnya. Dan ingat, seni dan olaharaga adalah tolak ukur kemajuan suatu bangsa di mata dunia.

Saat Anda didaulat menjadi caleg, Apa yang Anda sudah lakukan?

Saya melakukan yang bisa saya lakukan. Saya tidak mau munafik terus jadi caleg pura-pura baik. Terus tidak jadi, balik lagi ke awal. Buat apa hidup munafik, capek dan munurut saya kalau dimulai dari keboogongan karakter kedepannya pasti ketahuan. Dan itu bukan saya banget. Intinya dari dulu sebelum jadi caleg, saya juga suka berbagi, sosial. Itu tetap saya lakukan dan lebih lagi dilakukan di politik karena politik itu adalah sosial yang artinya hidup untuk masyarakat, berjuang untuk masyarakat. Kalau saya hidup untuk diri sendiri, saya rasa saya sudah cukup. Allah sayang sama saya. Saya diberi nikmat rizki dan saya ingin hidup untuk orang banyak. Saya ingin bermanfaat untuk orang banyak dan diawali dari keluarga.

Pendapatan jadi Anggota DPR kan banyak, mau diapakan uang itu nanti?

Saya sih gak mikir gaji DPR. mungkin kalau dipikir-pikir penghasilan sekarang sudah lumayan. Tapi saya pikir di DPR harusnya bekerja untuk orang banyak. Itu yang penting karena apabila kita kerja untuk orang banyak, Allah akan memberikan rizki yang banyak. Jadi makin banyak kita berbagi lagi, Amin ya Allah. Saya tidak ngoyo (jadi DPR), jadi gak terpilih ya gak apa-apa. Yang jelas apa pun uang yang saya keluarkan atau habiskan dalam kampenye, saya ikhlaskan, saya anggap saya shadaqah, jadi saya tidak ada beban.

Apakah Anda sudah banyak kenal politisi, atau Anggota DPR?

Saya tidak kenal banyak. Saya hanya biasa melihat mereka berdebat di TV dan di media lainnya. Mereka orang-orang pinter yang sangat luar biasa. Di tangan mereka nasib saya dan nasib rakyat indonesia ditentukan.

Politik itu kan kejam, bagaimana kalau Anda dijebak oleh teman-temannya untuk korupsi, jika terpilih nanti?

Ya itu yang dibilang teman-teman dan orang tua saya. Tapi tiap suatu malam saya sholat tahajud, dan jawabannya kalau saya teri-teriak di depan tv, itu bukan  jawaban. Saya harus masuk di dalamnya. Itu baru jawaban. Jangan berpikir kalah sebelum perang, jangan berpikir sebelum berbuat. Maka saya harus masuk, kalau Allah mengizinkan dan garis tangan saya ada di sana. Yang jelas saya mulai saat ini dengan niat bersih. Itu saja.

Pemilu kan banyak kecurangan, bagaimana jika suara anda diambil rival politiknya, apa yang Anda harapkan dan lakukan?

Jujur dan adil (Jurdil) serta sportif. Ya tidak apa-apa (hasil perolehan suara saya diambil).  Belum rizki berarti. Pasti ada jalan yang lebih indah di depan kita, kalau kita di dholimi.  Trust this. Jadi hidup tidak usah ketakutan

Berita Terkait

BAGIKAN