Staf Ahli: Masa Tersulit Ekonomi 2013 Sudah Kita Lewati

Foto: Setkab

Jakarta, Sayangi.com – Pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal November ini dianggap cukup menggembirakan, salah satunya terkait realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal III-2013 yang mencapai 5,62% atau tumbuh 2,96% dibandingkan dengan Kuartal II-2013.

Secara kumulatif, Januari-September 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,83 persen (yoy). “Saya melihat masa-masa tersulit ekonomi Indonesia di tahun 2013 telah terlewati,” kata Prof. Firmanzah, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Jakarta, Senin (11/11) pagi, seperti bisa terbaca di laman Sekretariat Kabinet.

Selanjutnya, kata Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu, dari sisi eksternal ekonomi Indonesia menghadapi gejolak pasar keuangan global akibat rencana The Fed melakukan pengurangan (tapering-off) stimulus moneter di Amerika Serikat. Capital outflow terjadi dan membuat IHSG mencapai titik terendah pada tahun ini sebesar 3,967. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terjadi dan cadangan devisa turun menjadi 92,67 miliar dollar AS pada posisi akhir Juli 2013.
Sementara itu dari sisi internal, tekanan inflasi sangat tinggi dan mencapai level tertinggi pada Juli 2013 sebesar 3,29 persen.

Menurut Firmanzah, gejolak ekonomi yang menimpa Indonesia saat itu sebenarnya merupakan dampak dari tekanan konsumsi di saat libur sekolah, lebaran dan menjelang tahun ajaran baru. Selain itu, dampak penyesuaian harga BBM bersubsidi yang dilakukan oleh Pemerintah untuk menyelamatkan defisit APBN 2013 juga dirasakan pada bulan-bulan tersebut.

Guna meredam gejolak tersebut, salah satu kebijakan yang ditempuh untuk menjinakkan inflasi dilakukan oleh BI melalui penyesuaian BI rate tiga kali (Juli-September 2013) dan mencapai posisi akhir saat ini sebesar 7,25 persen. Sementara dari sisi pemerintah, empat paket kebijakan dikeluarkan untuk memberikan stimulus fiskal kepada sektor riil dan menjaga daya beli masyarakat.     

Diakui Prof. Firmanzah, inflasi yang cukup tinggi pada bulan Juli 2013, kemudian diikuti kenaikan BI rate telah membuat banyak pihak merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, banyak analis yang memperkirakan, kenaikan BI rate akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia jauh dari posisi 6 persen.

“IMF memprediksi ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 5,25 persen di tahun 2013, Bank Dunia memprediksi di kisaran 5,6 persen, sementara ADB memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh di level 5,7 persen,” ungkap Firmanzah. Namun, lanjut Firmanzah, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III-2013 sebesar 5,62 persen dan 5,82 persen sampai bulan September 2013 sebagaimana disampaikan BPS, menunjukkan pertumbuhan ekonomi nasional tidak serendah yang diperkirakan lembaga internasional.

Prof. Firmanzah memperkirakan, pada kuartal IV-2013 potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan jauh lebih baik dibandingkan kuartal III-2013. Hal ini tampak dari sejumlah indikator dan parameter, seperti prospek pulih dan membaiknya daya beli masyarakat mulai terjadi jelang kuartal IV-2013. Hal ini tercermin pada trend penurunan dan terkendalinya inflasi telah terjadi pada Agustus (1,12 persen), September (-0,35 persen) dan Oktober (0,09 persen).

Selain itu, nilai tukar rupiah telah menemukan keseimbangan baru dan konsumen domestik menunjukkan indikasi keinginan untuk melakukan pembelian. Hal ini tercermin pada membaiknya Indeks Tendensi Konsumen (ITK) kuartal III-2012 naik dan mencapai 112.02. “ITK kuartal ini membaik bila dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai posisi 108,02,” paparnya.

Namun begitu, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu mengingatkan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, mendorong pertumbuhan ekonomi juga perlu memperhatikan stabilitas fiskal dan moneter kita. Ia menyebutkan, upaya stabilisasi dan penguatan fundamental ekonomi juga sangat penting di saat volatilitas dan gejolak eksternal sewaktu-waktu terjadi.

“Bagi Indonesia, mendorong pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi juga berbahaya bagi ekonomi karena defisit fiskal akan meningkat dan membahayakan neraca perdagangan akibat impor barang modal yang tinggi,” tukas Firmanzah. Karena itu, kata Firmanzah, kita perlu beryukur bahwa saat ini Indonesia telah mampu menyeimbangkan tuntutan atas pertumbuhan ekonomi dan penguatan fundamental ekonomi. (MSR)