Hutan Dibabat, Warga Samosir Kembalikan Lencana

Bandarlampung, Sayangi.com – Akibat hutan Tele di Samosir Provinsi Sumatera Utara terus dibabat tanpa ada upaya dari pemerintah dan penegak hukum untuk menghentikannya, warga setempat mengembalikan penghargaan Satyalencana Karya Satya kepada Presiden.

Menurut Mukri Friatna, Juru Bicara Penanganan Bencana Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi/Friend of the Earth Indonesia) dalam penjelasan yang diterima di Bandarlampung, Rabu, sebenarnya sulit bagi Walhi dan masyarakat di sana untuk mempercayai hal tersebut, namun kenyataanya memang demikian.

Dia menyebutkan, setiap harinya tidak kurang 5 hingga 10 truk fuso mengangkut kayu keluar dari hutan alam Tele.

Melihat kenyataan pahit ini, Mukri selaku Juru Bicara Walhi untuk Penanganan Bencana, mengecam keras ketidakmampuan aparat pemerintah dan negara dalam menghentikan kejahatan kehutanan di Samosir.

“Bagaimana mau mengurus masalah yang besar jika mengurus hutan yang sedikit saja tidak mampu,” ujar Mukri.

Hutan Tele di Samosir Sumatera Utara yang semula hanya tersisa 800 ha, saat ini terus menyusut. Hal ini disebabkan karena praktik pembabatan hutan tidak mampu dihentikan oleh aparat pemerintah maupun negara.

Upaya-upaya untuk menghentikan tindak kejahatan kehutanan telah dilakukan oleh masyarakat baik secara perseorangan maupun kelompok, di antaranya telah melaporkan kasus pembalakan kepada Bupati Samosir, DPRD dan Gubernur Sumatera Utara.

Pada tingkat nasional, warga telah melaporkannya kepada Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR pada 2 Oktober 2013.

Secara khusus, warga juga telah melaporkan kepada Polda Sumut dan Mabes Polri terkait dugaan tindak pidana kehutanan dan pengancaman kepada masyarakat setempat.

Kesungguhan masyarakat untuk menghentikan pembabatan hutan telah dibuktikan juga dengan mengembalikan pengahargaan Toba Award kepada Gubernur Sumut pada 2 Agustus 2013, penghargaan Wana Lestari kepada Kementerian Kehutanan dan Penghargaan Kalpataru kepada Presiden yang telah dikembalikan pada 3 September 2013 lalu.

Pengembalian sejumlah penghargaan tersebut dilakukan oleh Hasoloan Manik, Wilmar Simanjorang, dan Marandus Sirait selaku para peraih penghargaan.

Upaya strategis yang dilakukan masyakat seharusnya mampu menghentikan pembabatan hutan Tele. Namun aparat pemerintah dan negara tidak mampu mengurus masalah hutan yang luasnya hanya 800 ha.

Guna menunjukkan bahwa masyarakat sangat bersungguh-sungguh mengharapkan pengentian pembabatan hutan Tele itu, maka pada Kamis, 14 November 2013, Wilmar Simanjorang akan mengembalikan penghargaan Satyalencana Karya Satya yang diterima dari Presiden pada 2001.

Jika upaya ini tidak juga bisa menghentikan laju pembabatan hutan Tele, maka dengan terpaksa Walhi akan mendorong pelaporan kasus ini kepada Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan mengerahkan dukungan jaringan Walhi di 78 negara yang tergabung dalam Friends of The (FoE) Internasional, kata Mukri. (MD/Ant)

Berita Terkait

BAGIKAN