Kisruh Pencari Suaka, PM Abbott: Indonesia Tidak Cari Ribut

Foto: ABC

Canberra, Sayangi.com – Perdana Menteri Australia Tony Abbott menolak menyebut Indonesia sebagai pihak yang memulai keributan, menyusul polemik perbedaan pandangan terkait kapal pencari suaka bermuatan 60 orang yang diselamatkan kapal Australia pada Kamis (7/11).

“Saya tidak akan berkomentar pada hal-hal yang bersifat operasional,” tutur Abbott dalam wawancara dengan ABC. Dia membantah Australia terus-menerus menekan Indonesia atas isu pencari suaka. “Saya tidak tertarik dengan adu otot, saya hanya tertarik menghentikan perahu,” lanjut Abbott.

Dia menambahkan, hal ini bukan soal membuktikan siapa yang terkuat satu sama lain. “Ini pertanyaan dari dua teman baik bekerjasama terkait dengan kepentingan kedua negara,” serunya. Abbott juga membantah dirinya marah terhadap Indonesia karena merilis rincian operasional saat pemerintahan Koalisi di bawah kekuasaanya lebih memilih untuk melakukannya dalam briefing mingguan.

“Jika kita ingin mengungkapkan sesuatu kepada Indonesia, kita akan mengatakan di depan mereka, jujur, berhadapan,” tukas Abbott. Dia juga menginginkan agar media tidak memprovokasi isu ini. Seperti diketahui, Australia dan Indonesia bersilang pendapat atas aksi penyelamatan kapal pencari suaka yang akhirnya digiring ke Pulau Christmas.

Indonesia menolak menerima pencari suaka yang diselamatkan karena berkeras kapal mereka berada di luar zona SAR Indonesia, sementara Australia mengganggap sebaliknya. Penyataan dari Badan Sar Nasional (Basarnas) Indonesia mengungkapkan kalau kapal pencari suaka itu dicegat oleh otoritas Australia di 107 mil laut dari Indonesia atau sekitar setengah jalan ke Christmas Island.

Kapal itu kemudian digiring kembali ke lokasi sekitar 58 mil laut lepas pantai Indonesia selagi Australia berusaha meminta Indonesia menerima kapal pencari suaka. Sedangkan Menteri Imigrasi Australia, Scott Morrison, Rabu (13/11) malam mengatakan insiden itu adalah operasi SAR, bukan operasi penggiringan kembali kapal pencari suaka ke Indonesia. Dia juga menambahkan komunikasi awal dengan kapal pencari suaka di sekitar 43 mil laut selatan Jawa.

Kemarin, Pemerintah Indonesia membantah pernyataan Staf Ahli Wakil Presiden, Dewi Fortuna Anwar, bahwa suatu persetujuan mengenai pertukaran pencari suaka sedang dibahas dengan Australia. Menko Polkam Djoko Suyanto mengatakan kepada media Australia, ABC bahwa Dewi Fortuna Anwar bukan “orang yang berwenang” bicara isu ini.

Sebelumnya, seperti diberitakan Sayangi.com, Staf Ahli Wakil Presiden Dewi Fortuna Anwar mengatakan, pembahasan sedang berlangsung mengenai pertukaran pencari suaka yang diselamatkan oleh kapal-kapal Australia dengan pengungsi yang berada di pusat-pusat detensi di Indonesia. Wapres Boediono memang tengah berkunjung ke Australia dan diagendakan bertemu PM Tony Abbott.

Djoko Suyanto menambahkan, ia telah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pejabat yang berwenang untuk isu ini, dan sejauh ini tidak ada persetujuan mengenai pertukaran pencari suaka dengan Australia. Ia menegaskan, posisi Indonesia mengenai pencari suaka masih tetap sama sejak Pemerintahan PM Rudd dan tidak akan berubah di bawah Pemerintahan PM Tony Abbott. Ia juga bilang, Indonesia “tidak pernah menyetujui” keinginan dan kebijakan Australia mengenai masalah ini. (MSR/ABC)