Inilah 10 Terowongan Terpanjang di Indonesia

Foto: willylandscape

Jakarta, Sayangi.com – Di Indonesia, rupanya terdapat terowongan dengan panjang yang luar biasa. Tak banyak orang tahu, bahwa sebenarnya terowongan ini memiliki keistimewaan yang dibangun sejak jaman Belanda. Sayangnya, banyak dari terowongan terpanjang di Indonesia ini tidak lagi tergarap bahkan untuk dijadikan wisata sejarah pun tidak. Berikut rangkuman sayangi.com dari berbagai sumber tentang terowongan yang terpanjang di Indonesia.

1. Terowongan Gunung Gajah ini memiliki panjang 368 meter. Termasuk dalam wilayah DAOP III Sumsel dan terletak antara stasiun Lahat dan stasiun Bunga mas. Terowongan Gunung Gajah ini sebenarnya bernama Willem Synja yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Karena letaknya yang berada di Kelurahan Gunung Gajah, Kecamatan Kota Lahat, maka terowongan ini pun tenar dengan nama Terowongan gunung gajah. Selain lebih ramah bagi telinga pribumi, nama Terowongan gajah lebih mudah dilafalkan.

 

2. Terowongan Tebing Tinggi sepanjang 424 meter. Terowongan ini terletak di Talang Banyu Desa Tanjung Kupang, Kecamatan Tebing Tinggi, Sumetara Selatan. Terowongan yang masih aktif ini memiliki panjang sekitar 424 meter. Namun, karena makin tak terawat, terowongan ini temboknya makin rusak parah karena goncangan dan gerusan air hujan.

3. Terowongan Ijo, terletak di di Rowokele, Kebumen. Terowongan ini dibangun di jaman Belanda pada 1885-1886, dengan sistem kerja paksa terowongan ini sudah menelan banyak jiwa. Memiliki panjang sekitar 580 meter. Bentuk muka terowongan ini memiliki keunikan yaitu dinding luar yang tidak rata karena dinding luarnya tersusun dari batu kali yang tertata rapi dan kokoh. Ornamen mendatar di atas muka terowongan dibuat khas yaitu bergerigi dengan lekukan setengah lingkaran. Walaupun usia terowongan sudah tua namun konstruksinya masih kokoh. Kondisi alam di sekitar terowongan bernuansa pedesaan bahkan Terowongan Ijo pernah digunakan sebagai lokasi syuting film “Kereta Api Terakhir” dan “Daun di Atas Bantal”.

4. Terowongan Kupitan berada di wilayah DAOP II Sumbar antara Muarakalaban dan Padang Sibusuak, Terowongan ini memiliki panjang kurang lebih 600 meter.

5. Terowongan Lampegan. Terowongan ini terletak di Kecamatan Cibeber, perbatasan Kab. Cianjur dan Kab. Sukabumi. Pada tanggal 8 Februari 2001, terowongan ini runtuh, namun saat ini terowongan yang memiliki panjang sekitar 687 meter ini telah direnovasi. 

Antara tahun 1881 sampai 1884, perusahaan Staatspoorwegen Westerlijnen menyelesaikan pembangunan jalur lintasan kereta api mulai dari Bogor melalui Sukabumi sampai Bandung dan Cicalengka sepanjang 184 kilometer. Jalur kereta ini mencapai Bandung pada tanggal 17 Mei 1884 dan peresmian stasiunnya dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 1884.

Pada lintasan Sukabumi-Cianjur sepanjang 39 kilometer terdapat sebuah terowongan yang dibuat dengan membobol badan Bukit Kancana (ada juga yang menyebutkan Gunung Keneng) di Desa Cibokor. Panjang terowongan ini 415 meter. Terowongan ini adalah yang pertama dibuat di wilayah Priangan. Baru pada tahun 1902 dibuat terowongan lain di Sasaksaat pada lintasan Batavia-Bandung via Cikampek, dan 3 buahterowongan di Ciamis selatan dibangun tahun 1918.

Konon saat peresmian terowongan ini, diundanglah ronggeng terkenal waktu itu, Nyi Sadea. Usai pertunjukan, seseorang mengajak Nyi Sadea pergi namun tak pernah kembali lagi. Masyarakat kemudian hanya memercayai dongengan bahwa Nyi Sadea telah “diperistri” oleh “penghuni” terowongan tersebut.

Ada juga spekulasi mengenai asal nama Lampegan. Ada yang mengatakan berasal dari ucapan Van Beckman, “lamp pegang, lamp pegang…” (pegang lampunya..), saat memantau para pekerjanya yang sedang membobol bagian dalam terowongan yang tentunya gelap gulita. Ada juga yang mengatakan kata itu berasal dari masinis kereta api di masa lampau yang selalu meneriakkan “Lampen aan! Lampen aan!” saat kereta melewati terowongan itu. Maksudnya, masinis memerintahkan agar para pegawainya menyalakan lampu.

Memang beredar berbagai variasi cerita tentang asal-muasal kata “lampegan” dengan dongengan yang melibatkan perkataan-perkataan Van Beckman yang lalu berubah menjadi nama “lampegan”. Dari cerita-cerita yang beredar itu ternyata tak ada yang mencoba memeriksa kamus bahasa Sunda, padahal dalam kamus bahasa Sunda terdapat kata “lampegan” yang diterangkan sebagai ” nama sejenis tumbuh-tumbuhan kecil”.

6. Terowongan Mrawan Terletak disebelah Barat Stasiun Mrawan, Kalibaru, Banyuwangi. Terowongan ini memiliki panjang sekitar 690 meter dan dibangun pada tahun 1901.

7. Terowongan Eka Bakti Karya (760 m)Terowongan ini terletak di Sumberpucung, malang. Lima kilometer setelah stasiun Sumberpucung. Terowongan ini memiliki panjang sekitar 760 meter dan juga terdapat terowongan Dwi Bhakti Karya dengan panjang 400 meter. Disebelah terowongan ini terdapat Bendungan Ir. Sutami.

8. Terowongan Sawahlunto Terowongan Sawahlunto terletak di antara stasiun Muara Kalaban dan Sawahlunto, Sumatera Barat. Terowongan ini memiliki panjang sekitar 827 meter dan dikenal juga dengan sebutan Lubang Kalam.

9. Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan jalur kereta api yang dibangun oleh SS (Staatsspoorwagen) antara tahun 1902-1903. Bangunan Hikmat 503 ini berada di jalur antara Purwakarta dan Padalarang di Km 143 + 144 antara Stasiun Sasaksaat dan Stasiun Maswati, membelah perbukitan Cidepong di Kampung Sasaksaat Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Didalam terowongan sepanjang 949 m ini terdapat 35 sleko terdiri dari 17 kiri dan 18 kanan dari arah Stasiun Sasaksaat. Terowongan yang terletak di Daerah Operasi II Bandung merupakan terowongan kereta api yang padat lalu lintas, setiap harinya ada 44 Kereta api yang melintas secara reguler. Jalur yang lengkung ketika akan memasuki terowongan baik dari arah Stasiun Sasaksaat dan stasiun Maswati sedikit membahayakan. Karena itu, jalan relnya diberi rel paksa (gongsol). Banyaknya kereta api yang melintas memerlukan penjagaan khusus di terowongan sehingga di kedua ujung terowongan terdapat gardu jaga untuk JPTw (Juru Periksa Terowongan).

Terowongan yang pernah disebut goa oleh penduduk Kampung Cipicung, Desa Sumurbandung, Kabupaten Bandung, ini memunculkan nuansa mistis karena setiap tanggal 17 Agustus selalu diberi sesajen berupa seekor domba. Menurut keyakinan penduduk, tumbal sesajen itu untuk menolak bala.

Dari kisah dan cerita yang beredar, terowongan sepanjang 950 m dengan dinding tebal mirip benteng perang itu sudah memakan banyak korban. Tapi bukan karena kecelakaan kereta, melainkan pekerja yang membangun terowongan itu antara tahun 1902-1903. Banyak pekerja yang tewas lantaran tidak tahan siksaan kerja rodi dan banyak pula yang sakit. Konon, jenazah mereka dikuburkan di sekitar terowongan tersebut.

Meski mistis, terowongan ini dibangun dengan ketelitian yang tinggi, karena tingkat kesulitan tanah perbukitan di daerah tersebut. Paling tidak ada hitungan kemiringan dan kelokan 16-25 derajat, juga ada sedikit menanjak, sehingga terowongan beton ini bisa dibangun sesuai bentuk bukit-bukit di daerah itu. Jadi, jangan melihat mistisnya saja, tetapi perhatikan juga bahwa di masa lebih dari 100 tahun lalu, Belanda sudah membangun dengan cara canggih.

10. Terowongan Wilhelmina/Terowongan Sumber dibangun pada zaman penjajahan Belanda dan diresmikan pada tanggal 1 Juni 1921. Terowongan ini memiliki panjang sekitar 1208 meter. Terowongan kereta api yang dulu menghubungkan Banjar-Cijulang, kini keberadaanya sungguh memprihatinkan, dengan rel yang hilang dan muka terowongan yang tak terurus, dirambati akar-akar tanaman semak belukar, semakin menghilangkan pamor dari sejarah maupun aset wisata dari terowongan terpanjang di Indonesia ini. (FIT)

Berita Terkait

BAGIKAN