Moncernya Bisnis Sang Penguat Sinyal

Ilustrasi foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Bisnis menara di Indonesia masih cerah meski ada konsolidasi antara XL dan Axis yang dikhawatirkan memicu efisiensi dari sisi pembangunan infrastruktur.

“Bagi penyedia menara, adanya konsolidasi antara operator itu hal yang sehat. Memang, dalam jangka pendek terkesan akan ada efisiensi di mana BTS yang saling tumpang tindih seolah-olah tak terpakai. Tetapi di jangka panjang justru ini bagus bagi ekosistem,” ujar Presiden Direktur Tower Bersama Infrastructure Tbk Herman Setya Budi di Jakarta, Kamis (14/11).

Menurut dia, dengan adanya konsolidasi maka kondisi industri seluler akan lebih sehat yang berujung pada penawaran tarif lebih mendatangkan margin yang bisa dikembalikan dalam bentuk peningkatan kualitas layanan dengan membangun infrastruktur. Ia menambahkan, dalam kondisi jangka pendek pun perusahaan menara masih mendapatkan pertumbuhan pendapatan karena operator terus meningkatkan kualitas layanan.

“Kami terus mendapatkan permintaan untuk membangun kapasitas infill di Jawa, sementara di luar Jawa itu membangun menara. Hingga semester pertama 2013 belanja modal sudah terserap Rp 1,2 triliun,” ungkapnya. Sebelumnya, analis RHB OSK Securities, Jeffrey Tan mengatakan bahwa operator yang masih memiliki menara harus pintar melihat momentum yang ada agar pemisahan pengelolaan aset non-inti dan bisnis inti bisa menjadi maksimal.

“Dengan melepas aset menara telekomunikasi kepada perusahaan pengelola menara independen, operator telekomunikasi bisa mengefisienkan penggunaan belanja modal hanya untuk peningkatan layanan produk. Sedangkan perusahaan menara akan diuntungkan dengan potensi peningkatan rasio penyewaan per menara dalam satu wilayah (co-location ratio),” jelasnya.

Seperti diketahui, saat ini operator yang sedang melakukan tender pelepasan sebagian sahamnya di anak usaha yang berbisnis menara adalah Telkom. Saham anak usaha yang akan dilepas adalah Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel. Barclays Capital ditunjuk sebagai penasehat dari tender pelepasan sebagian saham anak usaha yang ditaksir memiliki nilai korporasi sebesar Rp 3 triliun itu.

“Monetisasi menara telekomunikasi dan bisnis properti bisa menjadi faktor penguat kinerja harga saham TLKM ke depan, karena nilai divestasi aset menara telekomunikasi diperkirakan mencapai 500 juta dolar AS dengan asumsi divestasi sekitar 49 persen saham,” ungkap analis Ciptadana Securities Triwira Tjandra dalam risetnya. (MSR/ANT)

Berita Terkait

BAGIKAN