Belasan Korban Trafficking asal Jateng Dipulangkan

Foto : strugglecontinues.org

Semarang, Sayangi.com – Belasan gadis dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang menjadi korban “trafficking” di Jakarta segera dipulangkan oleh Dinas Sosial setempat ke rumah masing-masing.

“Ada 19 korban ‘trafficking’ dari Jateng. Mereka rata-rata berusia 15-17 tahun yang berasal dari Cilacap, Banyumas, Kendal, Brebes, dan Kudus,” kata Kepala Dinsos Jateng Budi Wibowo di Semarang, Kamis (14/11).

Belasan gadis belia itu berhasil diamankan polisi dari PT Citra Kartini Mandiri di Tangerang Selatan pada 18 Oktober 2013, kemudian dititipkan ke Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Bambu Apus, Jakarta.

Mereka kemudian diserahterimakan dari Kementerian Sosial ke Dinsos Jateng pada Kamis (14/11) dan sementara akan ditampung di Balai Rehabilitasi Dinsos sebelum dipulangkan ke daerah asalnya.

Budi menjelaskan bahwa 19 gadis belia itu akan ditampung selama satu hari dulu, setelah itu akan dijemput oleh Dinsos masing-masing kabupaten pada Jumat (15/11) untuk dipulangkan ke rumah masing-masing.

“Mereka akan kami beri pelatihan keterampilan selama empat bulan, mulai 1 Januari 2014. Semuanya gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun, termasuk fasilitas makan dan penginapan disediakan,” katanya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan, Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Jateng Ema Rachmawati mengaku prihatin atas kejadian yang dialami oleh para korban.

Menurut dia, PT CKM telah melakukan ekspolitasi kepada para gadis yang rata-rata berusia 15-17 tahun dan masuk kategori “trafficking”, apalagi korbannya ternyata berasal dari berbagai daerah, bukan hanya Jateng.

Ia meminta masyarakat untuk jeli dalam memilih tawaran pekerjaan, serta tidak mudah percaya atau tergiur dengan tawaran pekerjaan dengan iming-iming gaji besar karena bisa saja menjadi korban “trafficking”.

“Kami terus berupaya untuk menekan kasus ‘human trafficking’ melalui gugus tugas pencegahan dan penanganan pidana perdagangan orang. Salah satunya sosialisasi ke sekolah-sekolah dan lewat radio,” kata Ema.

Sementara itu, salah satu korban, Lis (17) mengaku selama di penampungan kerap mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari pimpinan perusahaan, fasilitas tempat tinggal seadanya, dan diberi makan sekadarnya.

“Ada yang sudah jadi pembantu rumah tangga. Gaji yang sedianya Rp1,3 juta/bulan dipotong Rp500 ribu dengan alasan mengganti biaya selama pelatihan. Itu pun tidak pernah ada yang menerima uangnya,” katanya. (MD/Ant)

Berita Terkait

BAGIKAN