Hari Ini OJK Luncurkan Cetak Biru Literasi Keuangan

Foto: bloomberg

Jakarta, Sayangi.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Lembaga Jasa Keuangan dari seluruh industri keuangan (perbankan, asuransi, pasar modal, pembiayaan, pegadaian, dan dana pensiun) meluncurkan Program Strategi Nasional Literasi Keuangan di Jakarta Convention Center, Selasa (19/11) ini.

Dalam siaran persnya disebutkan, peluncuran akan dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri oleh sejumlah Menteri terkait, Gubernur Bank Indonesia, Gubernur DKI Jakarta, dan seluruh CEO dari industri Lembaga Jasa Keuangan, Akademisi, dan masyarakat.

Dalam acara peluncuran tersebut, OJK juga memperkenalkan Mobil Literasi Keuangan (Si Molek), maskot, dan “SiKAPI Uang dengan Bijak” sebagai jargon literasi keuangan. Tak ketinggalan, akan diperkenalkan juga mini website untuk edukasi dan perlindungan konsumen, juga Financial Customer Care (FCC) di nomor (kode area) 500-OJK atau (kode area) 500 655.

Dengan peluncuran cetak biru ini, Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad mengharapkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk jasa keuangan semakin meningkat. Pasalnya, “Persentase masyarakat yang belum memahami produk jasa keuangan masih tinggi, sehingga diperlukan sosialisasi dan program yang mendorong pemahaman produk keuangan.”

Ia memaparkan hasi survei di 27 provinsi terhadap lebih dari 28.000 responden yang menunjukkan, di sektor perbankan baru 22 persen yang pahami jasa perbankan, meski 57 persen menjawab telah menggunakan jasa perbankan. “Sektor asuransi hanya 18 orang per 100 yang paham tentang produk dan jasa asurasi dan hanya 12 persen dari yang paham memanfaatkan produk asuransi Untuk pegadaian,15 dari 100 orang pahami, tetap pemanfaatan 5 persen,” katanya.

Sementara lembaga pembiayaan hanya 10 persen penduduk yang paham, dan dari yang paham itu hanya enam persen yang memanfaatkannya. Dana pensiun baru tujuh persen yang memahami dan baru dua persen yang memanfaatkan produknya. Sedangkan untuk pasar modal hanya empat persen yang paham dan ikut aktif kurang dari satu persen.

“Untuk itulah Otoritas menetapkan program literasi keuangan sebagai prioritas kerja sehingga masyarakat mempunyai pengetahuan dan keterampilan sehingga memiliki akses lebih banyak,” katanya, seperti dikutip oleh Kantor Berita Antara. (MSR)