Bisnis Batik Tetap Bertahan di Tahun Politik

Foto : Sayangi.com/Doc

Jakarta, Sayangi.com – Para pedagang batik di Pusat Batik Nusantara di Thamrin City Jakarta, terus berlomba mengembangkan kreativitas aneka produk batik dan melebarkan usahanya seiring meningkatnya permintaan batik, baik dari dalam maupun luar negeri. Geliat usaha Batik ini didukung komitmen pengelola Thamrin City yang terus memperbaiki pelayanan.

Syaiful Ch, pemilik toko batik Madura di Thamrin City mengakui, usahanya terus berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan kini, putra asli Madura itu sudah memiliki empat buah gerai atau toko batik. “Awalnya cuma punya satu toko, sekarang sudah punya empat toko disini,” ungkapnya, sambil menambahkan kesuksesannya berkat kerja keras memperkenalkan batik Madura.

Batik yang dijual pun bervariasi harganya, mulai dari yang paling murah Rp 85.000 hingga Rp 5 juta. Syaiful mengakui hingga saat ini, penjualan cenderung stabil memasuki tahun politik.” Kami optimis, setelah pemilu tingkat penjualan batik akan semakin ramai,”ujar Syaiful.

Berkembangnya usaha batik di Thamrin City juga diakui oleh Wida, pemilik gerai Wiru Batik and Craft, yang memulia usahanya dari sebuah lapak di Thamrin City. Saat ini, perempuan asal Yogyakarta itu sudah memiliki enam gerai batik dan kerajinan.” Kita menjual kerajinan dari batik, mulai dari tas hingga baju batik dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 150.000,”ujar Wida.

Wida mengakui, penjualan aneka kerajinan dari batik Yogyakarta miliknya cenderung stabil dengan omset rata-rata mencapai Rp 150 juta hingga Rp 200 juta sebulan. Dia mengakui, memasuki tahun politik ini, tidak banyak berpengaruh pada usahanya. “Kita optimis penjualan akan terus meningkat, apalagi dibantu dengan kerjasama yang baik dengan pengelola Thamrin City,” kata Wida.

Senada dengan Wida, Hendritson pemilik gerai Batik New Fajar mengaku optimis perdagangan batik Lasem dan batik Cirebon miliknya akan terus meraih keuntungan. Bahkan keuntungan yang diperoleh tahun ini naik hingga 30 persen, dari rata-rata keuntungan bersih penjualan Rp 20 juta perbulan. Saat ini Hendritson sudah memiliki tiga kios.

“Lokasi Thamrin City yang strategis dan harga yang tidak terlampau mahal membuat orang memilih belanja disini,” ujar Hendritson. Dirinya optimis di tahun politik ini, penjualan batik akan terus meningkat. “Justru kita mulai menerima order dari partai politik membuat sovenir baju batik yang jumlahnya lumayan besar,”ungkapnya.

Sukses berdagang batik di Pusat Batik Nusantara Thamrin City juga diakui Yangke, pemilik Prabu Batik, yang menjual batik kontempoerer sejak awal berdirinya Thamrin City, enam tahun yang lalu. “Usaha saya dari nol dan batik yang kami jual keluar dari pakem karena tidak mewakili daerah tertentu tetapi tetap bermotifkan batik,” ungkap Yangke yang kini sudah memiliki dua buah tokoh di Thamarin City.

Yangke mengakui batik yang dijualnya bervariasi mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 5 juta dengan peminat lebih banyak orang asing yang datang berbelanja ke gerainya. Dia mengaku, usahanya berkembang dan omsetnya mencapai puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. “Tertinggi kita pernah mencapai omset Rp 200 juta perbulan, dan saat ini perjulaan kami terus bertahan,”katanya. Yangke mengaku, usahanya mengandalkan kualitas produk yang dihasilakn melalui riset dan kontrol yang ketat untuk menghasilkan produk yang bermutu.

Lucy Ratna selaku PR and Promotion Manager Thamrin City mengaku pihaknya terus mendukung pengembangan usaha para pedagang batik. “Kami memberikan pelayanan terbaik dan mendukung usaha para pedagang batik di Pusat Batik Nusantara Thamrin City,” ujarnya. (MD)