Wakil Ketua MPR: Australia Munafik, Ngaku Sahabat Tapi Lakukan Spionase

Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari menilai penyadapan Australia terhadap Presiden SBY dan sejumlah pejabat lainnya merupakan bentuk hipokrisi Australia. Berpura-pura menjadi sahabat, tetapi diam-diam menganggap musuh dengan melakukan tindakan spionase.

Berikut wawancara Sayangi.Com, Selasa (19/11), dengan politisi yang dikenal sebagai intelektual Partai Golkar ini.  

Apa pendapat anda terhadap penyadapan Australia terhadap Indonesia?
Sungguh kita berhak kecewa dan marah atas penyadapan pembicaraan para pejabat Indonesia yang dikabarkan dilakukan oleh Australia. Tidak selayaknya kedubes negara yang katanya bersahabat baik dengan RI melakukan hal-hal yang tidak terpuji itu. Saya rasa langkah-langkah yang diambil Menlu Marty Natalegawa sudah tepat, bahkan kalau perlu lebih keras lagi! Hubungan RI-Australia mestinya dibangun di atas paradigma hubungan yang saling menghormati dan menghargai antar kedua negara yang notabene bertetangga ini.

Apakah sudah tepat langkah pemerintah menarik dubes kita di Canberra?
Sebaiknya Indonesia menunggu dulu apa reaksi Australia atas langkah-langkah yang sudah diambil Menlu Marty Natalegawa. Jika respons Australia positif, maka Indonesia juga perlu bersikap positif. Pasalnya rezim yang berkuasa di Australia sekarang ini berbeda dengan rezim yang berkuasa pada th 2009. Tapi jika reaksi Australia negatif, maka langkah-langkah drastis boleh dipertimbangkan. Tapi saat sekarang ini kita sebaiknya menunggu respons Australia dulu.

Apa yang anda ketahui tentang sadap menyadap ini?
Sadap-menyadap bukanlah fenomena baru. Di era perang dingin memang sadap-menyadap itu sudah menjadi lingua franca dalam dunia diplomasi antar negara. Tentu di era tersebut sadap-menyadap antar negara blok Barat dan Timur malah sudah mirip perang spionase atau mata-mata. Kepentingannya tentu saja dalam konteks ideologi. Nah, setelah era perang dingin berakhir, ternyata sadap-menyadap itu alih-alih berhenti, masih terus berlanjut. Cuma kepentingannya tidak lagi pertarungan ideologi dalam pengertian konvensional, melainkan ekonomi atau sumber daya ekonomi. Pertanyaannya adalah, Australia menganggap Indonesia itu apa kalau ternyata main sadap begitu?

Dari pernyataan resmi Australia, mereka tidak akan minta maaf, apa sikap pemerintah dengan sikap keras Australia seperti ini?
Pemerintah perlu mengambil langkah drastis tapi cerdas. Apa itu langkah drastis tapi cerdas, Pemerintah harus tahu apa itu! Pemerintah perlu segera melakukan langkah cepat mensterilkan kantor-kantor strategis dari instrumen atau alat penyadapan, melakukan kontra aksi, dan mulai memfungsikan lembaga-lembaga sandi negara, BIN, dll

Dengan kejadian penyadapan Australia terhadap Indonesia, apa usul Anda kepada pemerintah?
Langkah kemarin kan baru pada level “memanggil pulang dubes RI sampai waktu yang tidak tertentu”. Sekarang harus dinaikkan setingkat di atas itu. Pemanggilan pulang secara permanen.

Maksudnya dinaikkan setingkat, seperti  pengusiran  dubes Australia?
Dunia diplomatik sudah tahu apa setingkat di atas pemanggilan pulang itu.

Apakah anda setuju pemutusan diplomatik kalau pemerintah Australia kukuh dengan pendiriannya?
Setuju.. lebih baik yang jelas-jelas dan tegas saja, tetapi kita tunggu dulu sampai pemerintah australia benar-benar tidak mau minta maaf. Australia jelas salah dan bertindak jahat terhadap Indonesia, kok tidak mau minta maaf. Ini langkah reaksional dan sepadan dengan sikap tidak bersahabatnya Australia terhadap Indonesia, untuk apa pura-pura bersahabat tetapi dihatinya memandang kita musuh, bahkan menyadap pembicaraan presiden kita dan pejabat lainnya. Itu persahabatan yang pura-pura, munafik, atau  penuh hipokrisi