‘Ada yang Tidak Suka Hubungan Prabowo-Megawati’

Foto: Sayangi.com/istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman mensinyalir terdapat pihak-pihak yang tidak senang terhadap hubungan Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terkait informasi adanya kontrak politik antara dua politisi senior tersebut untuk Pemilu 2014.

“Kami merasa ada pihak-pihak yang tidak ‘happy’ (senang) antara Prabowo dan Mega. Baik di internal maupun eksternal,” kata Habiburokhman di Jakarta, Selasa (19/11/2013).

Dia menyebutkan berbagai pihak yang membantah adanya kontrak politik antara Prabowo dan Megawati terlalu menafikkan fakta adanya perjanjian tersebut.

“Ada pihak-pihak yang membantah dan ‘membabi buta’ soal kontrak,” ujarnya.

Dia mengklaim bahwa kontrak politik antara Prabowo dan Megawati, yang klausulnya tentang dukungan penuh dari PDI-P ke Prabowo untuk menjadi Calon Presiden di Pemilu 2014 itu benar adanya.

“Dari saksi-saksi saat perjanjian itu pada 2009, dijelaskan bahwa PDI-P akan mendukung prabowo pada pencapresan 2014,” ujarnya.

Menurut Habiburokhman, perjanjian itu seperti “gentleman agreement”, yang tentunya, kata dia, harus dipenuhi.

Namun, jika PDI-P tidak memberi dukungan kepada Prabowo pada 2014, Gerindra tetap akan mengusung mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu sebagai calon presiden.

“Gerindra tidak akan bergantung pada partai lain, soal pencapresan. Mau koalisi atau enggak, kita akan buat pencalonan Prabowo sebagai capres,” ujarnya.

Pada Pemilu 2009, PDI-P dan Partai Gerindra berkoalisi untuk mencukupi syarat mengajukan pasangan capres dan cawapres. Pasangan capres yang diajukan yakni Megawati-Prabowo.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Tjahjo Kumolo seperti diberitakan Antara, mengatakan tidak ada perjanjian antara partainya dan Partai Gerindra yang menyatakan PDIP harus mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu 2014.

“Kalau ada isu itu harus disampaikan kepada kami. Apa perjanjiannya? Mana buktinya? Saya ingin lihat. Yang saya pahami tidak ada (perjanjian) itu,” kata Tjahjo.

Tjahjo meyakini tidak ada isi perjanjian yang menyatakan PDI-P harus mendukung Prabowo pada Pemilu 2014, karena dirinya ikut mendampingi Megawati ketika partainya dan Partai Gerindra melakukan kerja sama pada 2009.

Dia menekankan, tidak ada hal yang perlu disembunyikan mengenai hubungan kerja sama yang pernah terjalin antara PDIP dan Partai Gerindra.

Megawati sebagai kader partai kata dia, juga harus taat dan tunduk terhadap keputusan partai walaupun Mega menjabat sebagai ketua umum.

“Walaupun beliau (Megawati) adalah ketua umum partai yang dipilih melalui kongres, tetapi beliau harus taat pada apa yang menjadi perintah partai. Jadi, apapun itu partai yang menentukan, bukan beliau sendiri,” jelasnya.