Harga Minyak Turun Pascakesepakatan Nuklir Iran

Ilustrasi: BBC

Teheran, Sayangi.com – Harga minyak dilaporkan jatuh setelah Iran sepakat untuk membatasi aktivitas nuklirnya guna mendapatkan kelonggaran atas sanksi yang berjalan selama ini.

Iran saat ini merupakan negara yang memiliki cadangan minyak terbesar keempat di dunia. Belakangan kegiatan jual beli minyak mereka terganggu menyusul sanksi yang dijatuhkan terhadap negara itu. Saat ini Iran memang telah mendapatkan kelonggaran sanksi, namun negara itu belum diizinkan untuk menambah penjualan minyaknya hingga enam bulan ke depan.

Kesepakatan dengan Iran telah mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang merupakan kawasan penghasil minyak untuk kebutuhan dunia. Harga minyak Brent jatuh lebih dari 2 persen dalam perdagangan awal yang dibuka hari Senin (25/11).

Harga minyak jenis ini turun 2,42 dolar AS menjadi 108.63 dolar AS per barel. Sementara harga minyak light sweet AS jatuh 84 sen menjadi 93,64 dolar AS per barel.

“Ada banyak sanksi yang telah dilonggarkan dan ini akan membuat Iran secara perlahan kembali masuk kedalam kegiatan ekonomi global,” kata Jonathan Barrat, Kepala Ekonom di Barrat’s Bulletin kepada BBC. “Dan untuk minyak, masa tunggunya adalah enam bulan. Jika mereka melakukan semuanya dengan benar mereka akan kembali ke sektor ini seperti sedia kala.”

Saat sanksi diberlakukan kepada Iran, sejumlah negara seperti Cina, Jepang, India and Korea – negara-negara pembeli minyak terbesar dari Iran – telah memangkas impor minyak mereka dari negara itu. Uni Eropa juga ikut menerapkan larangan pembelian minyak dari Iran.

Masuknya Iran membuat banyak perkiraan terkait masa depan harga minyak dunia namun sejumlah pengamat memperkirakan harga minyak tidak akan turun lebih jauh lagi hingga pasar bisa memastikan detail dari kesepakatan Iran ini. Banyak juga yang memperkirakan penurunan harga minyak dunia kali ini adalah reaksi spontan dari dilonggarkannya sanksi untuk Iran.

“Beritanya lagi panas di media sehingga ada semacam reaksi spontan dari pasar,” kata Ben le Brun, analis pasar di Sydney. (MSR/BBC)