Rumah Si Pitung Marunda Simpan Misteri Pahlawan Betawi

Foto: Indonesia-heritage

Jakarta, Sayangi.com – Meski terlihat kokoh, bangunan kayu yang telah dipernis indah itu sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1800-an. Bangunan yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu itu lantainya pun terbuat dari kayu berukuran 2-3 x0,2 m2, begitu pun dengan dindingnya. Melihatnya, tak ada ragu untuk melangkah karena meski terbuat dari kayu, bangunan ini masih kokoh berdiri. Rupanya, hingga tahun 2012, beberapa bagian sudah direnovasi karena mulai lapuk.

Adalah rumah panggung Si Pitung di kawasan Marunda, Jakarta Utara yang menarik perhatian untuk disinggahi. Kaki tak ragu menyusuri tiap sudutnya yang khas dengan ornamen kuno dan klasik. Otentik dan misterius.

Konon, rumah ini dijuluki rumah Si Pitung karena sang pahlawan Betawi itu pernah tinggal disini untuk bersembunyi dari kejaran Belanda usai merampok bangsawan Belanda yang tinggal di bumi nusantara. Selama kurang lebih 1 hingga 2 bulan, Si pitung tinggal di rumah dengan 1 kamar tersebut.

Rumah itu tak pernah benar-benar dibangun dan ditinggali oleh Si Pitung karena beberapa sumber mengatakan bahwa rumah kayu itu merupakan rumah Haji Saefudin sebelum dijadikan Cagar Budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Apa hubungan Si Pitung dengan Haji Saefuddin? Tak ada yang tahu pasti. Ada yang mengatakan Haji Saefuddin adalah korban garong Si Pitung, ada yang mengatakan rumah itu hanya tempat persembunyian Si Pitung dari kejaran Belanda. 

Dilansir dari Wikipedia, berdasarkan penelusuran van Till (1996) berdasarkan Hindia Olanda 22 November 1892 (Koran Terbitan Malaya/ sebutan untuk negara Malaysia pada saat ini), Si Pitung diduga mencuri uang sebesar 125 Gulden dari Nyonya De C dan Haji Saipudin seorang Bugis dari Marunda (Hindia Olanda 10-8-1892:2;2; 26-8-1892:2).

Si Pitung menggunakan senjata untuk mencuri pada tanggal 30 Juli 1892, ketika itu Si Pitung dan lima kawanannya (Abdoelrachman, Moedjeran, Merais, Dji-ih, dan Gering) menerobos rumah Haji Saipudin dengan mengancam bahwa Haji Saipudin akan ditembak mati jika tak menyerahkan hartanya.

Tak ada yang tahu pasti bagaimana tindak-tanduk si Pitung semasa hidup. Menurut versi Koesasi, Si Pitung diidentikan dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang shaleh, dan menjadi contoh suatu keadilan sosial.

Syahdan, Si Pitung lahir di daerah Pengumben sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bang Piung dan ibunya bernama Mpok Pinah. Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin (seorang pedagang kambing).

Nama Pitung sendiri diambil dari Bahasa Sunda “Pitulung” (minta tolong atau penolong) karena Pitung terkenal suka menolong masyarakat lemah dan miskin. Nama asli Si Pitung sendiri adalah Salihun (Salihoen).

Ada beragam versi bagaimana Pitung meninggal dunia. Namun, banyak yang bilang bahwa dirinya ditembak dengan peluru emas dan sebelum mati, telah dipotong dulu rambutnya untuk menghilangkan kesaktiannya. Sehari sesudah kematiannya, jenazah dibawa ke pemakaman Kampung Baru pada jam 5 sore.
Setelah Hinne menangkap Pitung setahun kemudian dia dipromosikan menjadi Kepala Polisi Distrik Tanah Abang untuk mengawasi seluruh Metropolitan Batavia-Weltevreden.

Setelah kejadian tersebut Pemerintah Hindia Belanda melakukan pencegahan agar Pitung-Pitung yang lain tidak terjadi lagi di Batavia. Bahkan karena ketakutannya makam Si Pitung setelah kematiannya, dijaga oleh Pemerintah Belanda agar tidak diziarahi oleh masyarakat pada waktu itu.

Entah apakah benar Pitung adalah pahlawan betawi yang menjadi Robin Hood baik hati. Merampok pemerintah Hindia Belanda dan tuan tanah serta membagikan hasil curiannya pada masyarakat miskin. Tidak ada yang tahu. Tapi Masyarakat Betawi meyakini keberadaan Si Pitung dan jasa-jasanya yang melegenda. (FIT)

Berita Terkait

BAGIKAN