Soeharto (1): Sosok Kontroversial yang Kembali Dirindukan

Foto: Sayangi.com/istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Soeharto kembali hidup. Itulah barangkali yang terlintas dalam pikiran kita saat menjumpai gambar-gambar sosok Presien RI ke-2 di berbagai tempat di negeri ini. Tentu, ia tidak hidup secara jasmani, tetapi namanya yang kembali mulai ‘dirindukan’ seolah menunjukkan bahwa ia kembali berada di tengah-tengah kita.

Menemukan kalimat-kalimat yang menyirat makna kerinduan terhadap presiden yang dikenal sebagai “Bapak Pembangunan” ini memang tidaklah sulit. Jika kita mencoba shopping atau sekadar jalan-jalan ke beberapa pertokoan di Jakarta, kita akan dengan mudah menemukan beberapa atribut, termasuk kaos bergambar penguasa Orde Baru itu.

Sebut saja misalnya di Blok M Square, Jakarta Selatan. Di salah satu pusat belanja ibu kota ini, kaos bergambar Soeharto begitu laris dijual. Tak ayal, minat pembeli terhadap kaos ini membuat pedagang menyediakan stok sebanyak mungkin, dengan berbagai variasi.

Uniknya, kaos-kaos ini dilengkapi dengan kata-kata khas yang seolah menunjukkan kerinduan bangsa ini terhadap Soeharto. Salah satu yang paling populer, di antara kaos-kaos ini adalah kata-kata “Piye Kabare, Uenak Jamanku to”. Tulisan semacam ini tidak hanya ada dalam kaos, tetapi juga atribut lainnya, termasuk stiker yang kerap ditempel di kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

“Kita senang jual kaos ini, Mas, karena memang laris,” kata Erdy, salah seorang pedagang kaos bergambar Soeharto ini di Blok M Square saat ditemui Sayangi.com, Senin (25/11/2013).

Pembeli pun membeli kaos ini dengan dalih yang bervariasi. Namun kebanyakan mereka mengaku rindu kondisi di masa Soeharto dengan kondisi harga sembako yang mereka anggap lebih murah dan masyarakat juga lebih sejahtera.

“Saya aja udah ngeborong tiga buah, untuk dua anak saya, dan saya pake sendiri,” kata Ramadhan, saat ditanya ditemui saat belanja di kawasan tersebut.

Ramadhan mengaku membelikan kaos-kaos itu, karena ingat masa-masa Soeharto yang disebutnya, perekonomian lebih mudah, dan kesejahteraan lebih dirasakan daripada saat ini.

“Dulu waktu Pak Harto semuanya murah, enggak terlalu ramai, tapi mau kerja. Sekarang, pemerintah ramai, di TV ramai-ramai, tapi kita rakyat, enggak dipikiran,” kata pria yang mengaku sudah berusia 50 tahun itu.

Ternyata, tidak hanya di kawasan Blok M Square, kaos-kaos Soeharto ramai diburu pembeli. Di beberapa pasar di Jakarta, kaos-kaos ini sangat mudah didapat. Misalnya di Pasar Tanah Abang maupun di Pasar Senen, termasuk di Atrium Senen. Tidak hanya pasar, di tempat-tempat keramaian seperti kawasan Monas, kaos-kaos bergambar Soeharto juga banyak dijajakan. Kaos-kaos tersebut dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Jakarta. Di beberapa daerah seperti Yogyakarta, kaos bergambar Soeharto sama-sama menjadi buruan masyarakat. Misalnya di kawasan Malioboro dan Pasar Tradisional Kulon Progo Yogyakarta. Di kawasan ini, pedagang mengakui kaos bergambar Soeharto laris manis sejak sekitar Juni 2013 lalu.

“Di sini sudah lama laku keras. Saya sering belanja kaos ini. Ya kadang-kadang dalam sehari sampai 30 kaos Soeharto terjual,” kata Windi, salah seorang pedagang kaos di kawasan Malioboro.

Berita Terkait

BAGIKAN