Para Dokter Akan Aksi Solidaritas dr Ayu di HI 27 November

Foto: Sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com – Kasus mall praktik yang dilakukan dr Ayu, spesialis kandungan yang menyebabkan kematian pasien pada tahun 2010, terus mendapat tanggapan dari para dokter. Kali ini, Dokter Indonesia bersatu (DIB) akan menggelar Aksi Solidaritas Tolak Kriminalisasi Dokter pada Rabu, 27 November 2013 di Bundaran HI.

Aksi yang akan mengangkat isu sentral ‘Selamatkan Dokter, Selamatkan Rakyat’ ini rencananya diikuti sejumlah anggota DIB yang berasal dari seluruh Indonesia.

Menurut siaran pers DIB yang ditandatangani oleh dr. Eva Sridiana, selaku Koordintaor Nasional DIB, kriminalisasi dokter justru pada akhirnya akan merugikan masyarakat, karena akan menimbulkan tekanan psikologis pada dokter dalam memberikan layanan.

Tentu saja, dalam kondisi seperti ini pelayanan menjadi tidak optimal. Dokter akan takut mengambil resiko menghindari tindakan medis yang akan membahayakan posisinya (defensive Medicine)

DIB juga berpendapat profesi dokter perlu mendapatkan jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tindakan kesehatan kepada pasien, sebagaimana diatur dalam pasal 50 UU No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran. Dalam pasal tersebut dikatakan, dokter memeroleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional.

Sedangkan pasal 27 UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan, tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya dan ketiga pasal 24 PP No 32 tahun 1996.

Oleh karena itu, mereka berharap jangan ada tindakan kriminalisasi terhadap dokter yang telah melaksanakan profesinya seusia dengan prosedur.

Kronologi
Sebagaimana diketahui, kasus ini berawal dari penanganan persalinan pasien Ny. Siska Makatey oleh tim dokter dr Dewa Ayu Sasiary Prawarni Sp.OG, dr Hendry Simanjuntak Sp.OG, dan dr. Hendy Siagian Sp.OG yang pada saat itu bertugas di RS Prof. Kandou Malalayang. Pasien masuk Rumah Sakit atas rujukan Puskesmas.

Diperkirakan pasien dapat melahirkan normal tetapi sampai pukul 18.00 WITA belum ada kemajuan persalinan dan timbul tanda-tanda gawat pada janin sehingga diputuskan untuk menjalani operasi darurat. Setelah operasi bayi lahir dalam kondisi sehat sehat sementara pasien pasca operasi kondisinya memburuk. Dua puluh menit kemudian pasien meninggal dunia.

Berdasarkan visum dan pertimbangan para ahli kedokteran, penyebab kematian adalah emboli udara di bilik kanan jantung yang menurut saksi ahli dr. Nurdadi Saleh Sp.OG, terjadinya emboli tidak bisa diprediksi dan tim dokter telah menjalankan prosedur sesuai standar sehingga tidak masuk kategori kelalaian.

Berdasarkan penilaian MKEK, tidak ada indikasi pelanggaran prosedur dan putusan PN Manado juga menyatakan bebas murni tetapi setelah dilakukan kasasi di MA, dr. Dewa Ayu Sasiary Prawarni yang sedang menjalankan praktik di RS Tarakan Balikpapan langsung dieksekusi dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Malendeng Manado.

Sedangkan dr. Hendry Simanjuntak kini menyusul dr Ayu masuk rumah tahanan Malendeng di Manado. Pada persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Manado, dr Ayu, dr. Hendry Simanjuntak dan rekannya, dr. Hendy Siagian dituntut 10 bulan penjara, divonis bebas karena tidak terbukti melakukan malpraktik. Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani kasus itu mengajukan kasasi.

Kasasi JPU ini kemudian dikabulkan Mahkamah Agung (MA) lewat putusan yang dikeluarkan pada 18 November 2012 lalu. Eksekusi dr. Ayu dilaksanakan JPU dengan menangkapnya di Balikpapan, Jumat pekan lalu (15/11/2013) dan dibawa ke Manado untuk ditahan di Rutan Malendeng. (VAL).