Ahmad Yani: Preseden Buruk, KPK Periksa Boediono di Istana

Foto: Sayangi.Com/Chapunk

Jakarta,Sayangi.com – Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani mempertanyakan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memeriksa Wapres Boediono terkait kasus Bank Century di Istana Wakil Presiden, Sabtu (23/11) lalu. Bukan diperiksa di Gedung KPK.

“KPK harus menjelaskan kepada publik apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Boediono diperiksa di istana, dan kenapa harus dilakukan pada hari libur?” kata Yani, saat diwawancara Sayangi.Com, Senin (25/11).

Yani mengemukakan, pemeriksaan Boediono di Istana Wapres memberi ruang kepada publik untuk berspekulasi macam-macam. Karena itu, menurutnya, KPK harus memberikan penjelasan ke publik secara konperehensif, tidak cukup hanya dengan penjelasan sepintas-sepintas.

Politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menilai, langkah yang dilakukan KPK dalam memeriksa Wapres Boediono sebagai preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia dan jelas melanggar prinsip equality before the law. Waktu Pansus Century dulu, kata Yani, Pak Boediono mau datang ke DPR karena Pansus menghormati prinsi itu.

“Ini preseden buruk. Nanti bisa saja ada Gubernur dan Bupati yang meminta perlakuan sama saat akan diperiksa KPK. Dan kalau KPK menolak, maka akan terjadi diskriminasi hukum,” ujar Yani, yang merupakan mantan anggota Pansus DPR untuk kasus Bank Century .

Sebagai mantan anggota Pansus Century, Yani mengaku kecewa dengan kinerja KPK dalam menangani kasus Bank Century. Ia menilai, KPK terkesan menyamarkan kebenaran.

“Kasus Century ini mestinya sudah lama selesai. Bukti dan fakta hukum yang terungkap sudah jelas, kerugian negara sudah jelas,tersangka harusnya sudah berani diungkap semua. Kita jangan terlena oleh perkembangan saat ini, kita harus melihat secara benar konstruksi dakwaan KPK nanti, lanjut Yani.

Ditanya mengenai pemeriksaan Boediono yang terkesan sama perlakuannya dengan mantanĀ menteri keuangan Sri Mulyani, Ahmad Yani mengatakan: “Yah saya juga heran, atau jangan-janganĀ KPK merasa berada di bawah dua intitusi itu. Dugaan saya ini yang membuat kasus century berputar-putar.”

Berita Terkait

BAGIKAN