Atas Nama Ideologi Kiri, Tiga Perempuan Disekap 30 Tahun

Foto : the guardian

London, Sayangi.com – Atas nama ideologi kiri yang memang berkembang di Brixton, London Selatan, tiga perempuan ditemukan disekap oleh sepasang suami istri yang pada tahun 1970-an sering ditangkap polisi terkait aksi-aksi protes di kawasan itu.

Kini polisi terus mendalami setiap detail kasus penyekapan yang menghebohkan itu. Polisi meyakini, ketiga perempuan yang disekap, masing-masing warga asal Malaysia berusia 69, warga asal Irlandia berusia 57 dan warga Inggris berusia 30 tahun mengalami kekerasan fisik dan mental.

Setidaknya, dua korban yang berusia 69 dan 57 tahun, selama tiga dekade disekap di tempat yang berpindah-pindah. Minggu (24/11) kemarin, polisi mendatangi penghuni apartemen di Peckford Place, Angell Town, Brixton, London Selatan, yang dimiliki oleh Lembaga Pelayanan Sosial Lambeth.

Apartemen di Brixton, tempat ditemukannya ketiga korban penyekapan, hanya satu diantara 13 tempat yang kini diselidiki polisi. Kedua korban yang ditemukan kemungkinan disekap karena memiliki ideologi yang sama dengan penculiknya.

Polisi menduga, awalnya kedua korban kepincut dengan ideologi kiri penyekapnya. Mereka pun sepakat menjalani gaya hidup kolektif sebagaimana digagas tersangka pasangan suami istri yang keturunan India dan Tanzania.

Apa lagi, kedua tersangka tahun 1970-an kerap ditangkap terkait gerakan politik sayap kiri yang bermarkas di Brixton.

Diduga, anggota keluarga termuda di rumah penyekapan itu tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Nah, lewat anggota termuda yang non-ideologis itu kisah perbudakan dan penyekapan terbongkar ke publik.

Berawal dari Surat

Awalnya gadis 30 tahun itu menulis surat kepada Marius Feneck (26), tetangganya. Dalam surat, korban mengungkapkan situasi putus asanya dan mengungkapkan perasaannya seperti “lalat terperangkap dalam sarang laba-laba”.

Dikabarkan, korban penyekapan itu tergila-gila dengan Marius Feneck. Teman-teman Feneck mengklaim wanita itu mengirimnya lebih dari 500 surat selama tujuh tahun, beberapa wangi dan dengan ciuman pada mereka.

Menurut laporan, ia menulis dalam salah satu suratnya : “Mereka memenjarakan saya di sini, mengunci semua pintu dan jendela. ” Surat itu juga mengklaim bahwa ia menderita “siksaan yang tak terkatakan” dan berulang kali mengkritik dugaan penculiknya” yang berani menyebut diri saya ‘kerabat'”.

Dari sinilah kisah perbudakan berlatar belakang ideologis itu terbongkar. Polisi Metro di London pun mengerahkan 30 personil terbaiknya di bawah kepemimpinan Steve Rodhouse yang secara bersungguh-sungguh menyelidiki kasus ini.

“Kami percaya bahwa dua korban bertemu dengan tersangka laki-laki di London melalui ideologi politik bersama, dan bahwa mereka tinggal bersama-sama di alamat yang sering disebut Rumah Kolektif,”ungkap Rodhouse, Minggu (24/11).

Sebagaimana ramai diberitakan sebelumnya, ketiga korban itu telah melarikan diri dari “Rumah Kolektif” dengan bantuan lembaga amal Freedom Charity dan polisi, sejak 25 Oktober lalu.

Sesungguhnya mereka adalah korban kekerasan atas nama ideologi yang digalang sejak lebih dari 30 tahun lalu. (MD)

sumber : the guardian, BBC