Mantan Kepala BPN Sangkal Terima Duit Hambalang

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Joyo Winoto menyangkal dirinya menerima uang untuk pengurusan izin sertifikat tanah proyek pembangunan sarana dan prasarana olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Ia membantah tuduhan Jaksa Penuntut Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam sidang lanjutan atas perkara dugaan korupsi proyek tersebut untuk terdakwa Deddy Kusdinar.

“Tidak pak. Saya berinteraksi dengan berkas-berkas. Sama orang tidak,” tegasnya Joyo di Gedung Tipikor, Kuningan, Jakarta Selatan (26/11).

Pernyataan tersebut langsung ditimpali Jaksa Penuntut dengan menantang Joyo untuk dikonfrontir dengan saksi lain di sidang selanjutnya.

“Anda siap untuk dikonfrontir dengan saksi lain?,” tantang Jaksa.

Joyo winoto dengan lugas menyambutnya dengan kata “Siap”.

Dalam kesaksiannya, Joyo Winoto menjelaskan bahwa penerbitan surat hak pakai tanah oleh BPNRI terjadi pada tahun 2010 saat jabatan Menpora telah berganti dari Adhyaksa Dault ke Andi Alfian Mallarangeng.

“BPNRI mengeluarkan hak tanah pemerintah No.1 tahun 2010 kepada Kemenpora,” ujarnya.

Joyo pun kemudian dicecar pertanyaan menyangkut penerbitan hak pakai tanah awal yang terkesan lama. Permohonan hak pakai tanah sedianya telah diajukan sejak periode 2006-2007 saat Menteri Pemuda dan Olah raga (Menpora) dijabat Adhyaksa Dault. Namun, Permohonan tersebut tidak kunjung diterbitkan.

Pada tahun 2009, Adhyaksa kembali mengajukan permohonannya. Namun, surat izin hak pakai tanah tersebut baru terbit saat jabatan Menpora dipegang oleh Andi Alfian Mallarangeng pada tahun 2010.

Joyo beralasan, saat pengajuan di masa Menpora Adhyaksa Dault, ada beberapa prasyarat yang belum terpenuhi.

“Pertama, berkaitan dengan luasan. Kedua, adanya laporan sebagian tanah tersebut masih bersengketa. Ketiga, menyangkut peralihan pemilik,” sebutnya.

Ia pun menjelaskan bahwa tanah yang berstatus sengketa tersebut berada pada posisi tarik ulur dengan pemilik tanah pertama.

“Tanah dilepas pemilik PT Buana Estate kepada Kemenpora tahun 2004, namun pada tahun 2006 pelepasan tanah itu dicabut kembali oleh pemilik,” urai Joyo memberikan penjelasan.

Dalam sidang sebelumnya, tersangka pengadaan dan pembangunan sarana prasarana pusat pelatihan olahraga Hambalang, Deddy Kusnidar menyebut Joyo Winoto mendapatkan uang Rp 3 miliar.(GWH)

Berita Terkait

BAGIKAN