BI: Ekonomi Kita Tidak Krisis, Cuma Perlu Minum Obat

Ilustrasi foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya tidak sedang mengalami krisis saat ini. Ini terlihat dari sisi fundamental negara ini yang masih cukup kuat. Namun, BI mengingatkan agar Indonesia tetap belajar dari berbagai situasi makro yang pernah dihadapi di masa lalu.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengungkapkan kondisi yang dihadapi Indonesia sekarang merupakan akibat dari turbulance di pasar keuangan yang terjadi secara global. Ini menurut dia, bukan merupakan sebuah krisis.

“Saat ini tidak ada krisis. Yang terjadi adalah turbulance di pasar keuangan global. Ini berdampak ke semua negara termasuk kita. Kita cuma perlu istirahat, minum obat supaya tidak masuk ICU,” ungkap Mirza saat ditemui di acara Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2014: “Akankah Krisis Berlanjut?” di Hotel Luwansa, Jakarta, Selasa (26/11).

Dia mengatakan, nilai tukar rupiah pertama kali mengalami goncangan pada tahun 2005 karena kenaikan harga minyak di Amerika Serikat (AS) dan Cina. Saat itu, lanjut dia, kedua negara ini tengah menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi.

“Ekonomi AS dan Cina masing-masing pada 2005 tumbuh 10%-12% dan di atas 3%. Sehingga harga minyak naik terus. Akhirnya memberi tekanan pada APBN karena subsidi BBM jadi terlalu besar. Rupiah berlarut-larut lemah,” ucapnya.

Mirza menjelaskan, menanggapi pelemahan rupiah yang berlarut-larut waktu itu, pemerintah akhirnya menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) diikuti dengan langkah Bank Indonesia (BI) menaikan suku buanga acuannya sampai ke angka 10 persen.

“Akibat kebijakan ini, sisi fundamental ekonomi Indonesia kembali dalam situasi normal pada periode 2006 dan 2007. Dibuktikan dengan booming-nya perekonomian kita. Namun Pemerintah harus kembali melakukan adjustment karena terjadi krisis ekonomi global di 2008,” jelas Mirza.

Untuk itu, dia mengingatkan bahwa ekonomi AS yang perlahan mulai bertumbuh akan mendorong Bank Sentral mereka akan segera menarik likuiditas (tapering off) yang diperkirakan terjadi tahun depan. Sehingga, lanjutnya, Indonesia perlu bersiap menghadapi dampaknya dengan memperkuat sisi fundamental perkenomian khususnya neraca transaksi berjalan.

“Kita harus siap menghadapi kemungkinan tapering off tersebut. Apakah itu dilakukan di Maret, Juni atau September 2014, kita harus siap. Makanya kita harus benahi defisit transaksi berjalan dengan cara mengurangi impor barang non produktif, minyak dan sebagainya,” pungkasnya. (MSR)

Berita Terkait

BAGIKAN