DKI Benahi 30 Titik Pemicu Kemacetan

Foto : Sayangi.com/Doc

Jakarta, Sayangi.com – Kemacetan lalulintas di ibu kota selain disebabkan banyaknya kendaraan yang tidak sebanding dengan rasio jalan, juga disebabkan 30 titik persimpangan. Secara bertahap, Pemprov DKI Jakarta mulai membenahinya dengan melakukan rekayasa lalulintas agar persimpangan itu tak lagi menimbulkan kemacetan parah.

Deputi Gubernur Bidang Transportasi DKI Jakarta, Soetanto Soehodo mengatakan, dari 33 persimpangan yang kritis, kini telah tersisa 30. Sedangkan tiga persimpangan di antaranya telah ditangani dengan cara pembuatan underpass dan flyover. Sehingga tidak menimbulkan kemacetan lagi. Masing-masing adalah persimpangan kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Kemudian persimpangan Harmoni dan Megaria Jakarta Pusat.

“Biaya rekayasa lalulintas dengan pembuatan underpass, flyover dan trotoar untuk rekayasa lalulintas ini dari APBD DKI. Tentunya kita juga ingin swasta turut membangun kota ini,” ujar Sutanto, saat menghadiri acara mitigasi kemacetan lalu lintas dan perbaikan lingkungan di persimpangan lalu lintas Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11).

Ia mengucapkan terimakasih pada PT Toyota Astra dan pemerintah Jepang yang telah peduli dan memberikan bantuan pada Pemprov DKI dalam penanganan lalulintas. Diketahui, pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) memberikan bantuan hibah sebesar 7.609.000 yen pada DKI untuk penanganan persimpangan di Mampang Prapatan ini. Persimpangan Mampang ini merupakan satu dari 30 titik simpang kritis yang belum diatasi.

Sementara, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Shigeru Ushio mengatakan, program penyempurnaan simpang Mampang ini sebagai bentuk komiten pemerintah Jepang dan PT Toyota Astra yang turut andil untuk mengurai kemacetan di DKI Jakarta.

“Setelah dilakukan riset dengan Dinas Perhubungan DKI, memang ada 33 titik simpang yang kritis. Simpang Mampang ini sebagai pilot project penanganan karena di sini memiliki tingkat kepadatan lalulintas yang cukup tinggi. Namun kita dapat melakukan perbaikan minimal dengan hasil maksimal. Riset dan rekayasa teknis program ini dilakukan oleh JICA dan Dishub DKI,” jelas Ushio.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono mengakui, banyak titik persimpangan yang memicu terjadi kemacetan lalulintas. Pemicunya, volume kendaraan terus meningkat namun infrastruktur yang ada tidak pernah bertambah. Belum lagi, terkadang antara pejalan kaki dengan pengendara bercampur jadi satu. Akibatnya kendaraan berjalan perlahan demi menghindari kecelakaan.

“Masalahnya kanalisasi di Jakarta itu sangat sulit. Karena kadang lahan untuk pejalan kaki dan kendaraan itu terjadi miks. Di sini tentu perlu ada penanganan agar tidak terjadi lagi. Peranan swasta melalui program CSR sangat dibutuhkan dalam penanganan lalulintas di DKI,” harap Pristono.

Berita Terkait

BAGIKAN