Mahfud: Pemimpin Sekarang Dihasilkan Parpol yang Sedang Sakit

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Masyarakat harus banyak berperan aktif mendorong partai politik (parpol) untuk melahirkan pemimpin nasional yang berpihak pada rakyat. Jika masyarakat pasif, tidak peduli dengan perkembangan parpol, maka parpol lebih banyak berfungsi sebagai bentuk-bentuk rekayasa politik. Akibatnya akan melahirkan pemimpin nasional yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Demikian ditegaskan Mahfud MD dalam Diskusi Nasional Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKI), bertajuk “Seleksi Kepemimpinan Nasional, Penjaringan Amanat Rakyat Vs Rekayasa Politik” di Gereja Theresia, Jakarta, Sabtu (30/11/2013). Pembicara lain dalam acara yang dipandu Moderator Agung Rangkuti (Presidium ISKI) itu juga adalah Dr. Trias Kuncahyono, wartawan senior Harian Kompas.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu lebih lanjut mengemukakan bahwa jika dibiarkan, dalam arti masyarakat tidak peduli dengan prilaku parpol, parpol akan berubah dari yang semula menjadi instrumen demokrasi yang sangat positif dan bisa memberi harapan untuk menyejahterakan rakyat, menjadi instrumen oligarki yang hanya menjadi ajang kepentingan sekelompok elite. Artinya, parpol hanya sibuk dengan urusan politik prosedural lima tahun sekali dan tidak ada urusannya dengan perjuangan kesejahteraan rakyat.

Solusinya, menurut Mahfud, parpol akan melahirkan pemimpin nasional yang ideal jika dikawal dengan baik oleh masyarakat. Sementara pemimpin yang ideal, menurut Mahfud adalah sosok tokoh dengan kriteria yang mempunyai sifat-sifat alam, yakni, surya (tegas), candra (bulan), buana (tempat berpijak), kartika (memandu), angkasa (lapang dada), banyu (menyuburkan harapan) dan angin (ketegasan dalam penegakan hukum).

“Oleh karena itu, aktiflah masyarakat mengawal parpol agar seleksi kepemimpinan nasional melahirkan pemimpin yang sesuai dengan harapan masyarakat,” tegasnya, sambil menambahkan bahwa saat ini terjadi kesenjangan masyarakat dalam seleksi kepemimpinan nasional.

Dalam rilis yang diterima Sayangi.com ini, Mahfud juga menjelaskan bahwa kualitas demokrasi dan kualitas pemimpin saat ini turun. Pemilihan pemimpin terkooptasi oleh opini-opini sesat yang sengaja dilakukan pihak-pihak tertentu hanya mengejar kepentingan politik sesaat.

“Pemilihan pemimpin selama ini masih jauh dari kehendak ideal masyarakat. Pemimpin sekarang adalah merupakan kehendak parpol yang sedang sakit. Pemilihan pemimpin dilakukan melalui cara transaksional yang sangat membahayakan. Sehingga pemimpin kurang aspiratif, lemah dalam pengambilan keputusan dan kurang berwibawa,” tegasnya.

Akibatnya, proses pelaksanaan demokrasi hanya dijadikan sebagai tempat korupsi, sebagai tempat untuk merusak negara dan lain-lain. Hingga tahun 2013 saja, 309 kepala daerah mengalami masalah hukum. Pemimpin saat ini sudah sangat jauh dari harapan masyarakat karena dijaring melalui cara-cara rekayasa politik tanpa memedulikan kehendak masyarakat.

“Tapi, parpol harus tetap ada, bagaimana pun jeleknya parpol itu. Sejelek-jeleknya parpol, lebih baik ada dibanding tidak ada parpol. Karena jika tanpa parpol, kekuasaan di negeri ini menjadi absolut. Dengan parpol, betapapun jeleknya, maka kontrol tetap akan jalan sebagai bagian dari pelaksanaan demokrasi,” ujarnya.