Dahlan Iskan: Konvensi Demokrat Bukan untuk Dongkrak Elektabilitas

Foto: Antara

Surabaya, Sayangi.com – Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan bahwa konvensi Capres Partai Demokrat yang diikutinya sebenarnya bukan untuk mendongkrak elektabilitas partai itu seperti prediksi pengamat.

“Konvensi itu bukan untuk elektabilitas seperti kata pengamat, tapi berangkat dari keprihatinan Pak SBY tentang mudahnya terpilih pemimpin bangsa yang tidak berkualitas,” katanya di Surabaya, Sabtu (30/11).

Di hadapan 400-an mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) dalam “Seri Kuliah Kepresidenan” oleh Departemen Mata Kuliah Umum (MKU), ia menjelaskan Konvensi Capres Demokrat itu ingin mengawinkan dua fakta. “Ada pemimpin yang tidak berkualitas tapi bisa diterima atau populer, tapi ada pemimpin yang tidak bisa diterima (tidak populer) tapi berkualitas, nah konvensi itu mengawinkan keduanya,” katanya.

Jadi, kata salah seorang peserta Kovensi Capres Demokrat itu, target konvensi adalah lahirnya pemimpin berkualitas yang bisa diterima (populer). “Itu penting, karena demokrasi kita masih menyamakan antara suara profesor atau rektor dengan suara penganggur, padahal itu tidak adil, karena itu konvensi menjadi sarana penyaring,” katanya.

Bahkan, kata mantan Dirut PT PLN itu, peserta Konvensi Capres Demokrat itu tidak dipilih begitu saja, melainkan didasarkan survei terhadap 250 guru besar dan dokter dari universitas se-Indonesia.

“Sayangnya, nama-nama yang tersaring tidak semuanya mau menerima undangan konvensi itu, bahkan saya sendiri mau menerimanya dalam 1-2 hari menjelang berakhirnya pendaftaran peserta konvensi,” katanya.

Wartawan kawakan yang juga pendiri Jawa Pos Grup itu mengaku dirinya memutuskan untuk menerima karena tokoh yang dijagokan justru mendorong dirinya. “Saya mengusulkan Pak Chairul Tandjung,” katanya.

Selain itu, dirinya juga mendaftar agak terlambat karena dirinya memang tidak mau mendaftarkan diri, kecuali diperintah. “Saya benar-benar tidak mau mendaftar, tapi Presiden akhirnya meminta,” katanya.

Namun, katanya, ada dua alasan yang membuat dirinya mantap yakni tujuan konvensi untuk menggabungkan kualitas dan popularitas, serta kemajuan Indonesia sudah berjalan sesuai “rel” yang tepat.

“Kalau rel itu kita ikuti, maka bukan tidak mungkin akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju nomer 9 dalam enam tahun ke depan, nah saya terpanggil agar ‘rel’ itu tidak belok-belok,” katanya.

Menurut dia, jika bukan karena alasan itu, maka dirinya tidak akan mau menjadi capres. “Emangnya enak jadi presiden, saya tahu sendiri bahwa presiden itu dihujat kemana-mana,” katanya.

Bahkan, katanya, jika diharuskan memilih, maka dirinya akan memilih untuk menjadi orang bebas. “Terus terang, jadi menteri atau jadi Dirut PT PLN itu juga sempat saya tolak,” katanya.

Namun, ia akhirnya mau menerimanya, karena semua keberatannya dapat “dipatahkan” Presiden Yudhoyono. “Misalnya, saya bukan insinyur atau ekonom, tapi Pak SBY bilang kalau butuh manajer dan leader,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Rektor Ubaya Prof Joni Parung menegaskan bahwa MKU Seri Kuliah Kepresidenan dimaksudkan untuk memberi ruang dialog mahasiswa dengan para calon pemimpin bangsa.

“Kalau kami mengundang Pak Dahlan Iskan, karena beliau merupakan sosok yang multikultur, seperti Ubaya yang 35-40 persen mahasiswa dari luar Surabaya dan provinsi se-Indonesia terwakili,” katanya.

Selain di Ubaya, Menteri BUMN Dahlan Iskan juga mengikuti senam di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), lalu menghadiri seminar yang merupakan rangkaian dari “Airlangga Ideas Competition” dan meninjau pameran hasil karya mahasiswa Fakultas Farmasi Unair. (ANT)