WNI Selandia Baru Pertama Coblos Saat Pemilu 2014

Wellington, Sayangi.com  – Perbedaan waktu enam jam lebih cepat dari Waktu Indonesia Barat menjadikan warga negara Indonesia di Selandia Baru yang pertama mencoblos atau memberikan suara pada Pemilu 9 April 2014 dan Pemilu Presiden 9 Juli 2014.

“Sekitar 3.500 pemilih tetap warga negara Indonesia di Selandia Baru siap memberikan suara,” kata anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Selandia Baru Budi Putra di Wellington, Sabtu (31/11) seperti ditulis kantor berita Antara.

Budi yang juga Ketua Keluarga Besar Masyarakat Indonesia Wellington menyebutkan terdapat sekitar 4.500 warga negara Indonesia menetap di negeri Kiwi dan yang berhak memilih serta telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) sekitar 3.500 orang.

“Mereka telah kami daftar pada masa pendaftaran lalu,” kata Budi yang juga dosen seni gamelan di Universitas Victoria dan Universitas Otago di Wellington.

Ia mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan dua tempat pemungutan suara luar negeri (TPSLN) luar negeri di sekitar Kedutaan Besar RI di Wellington dan di Kota Auckland.

“Bagi yang tinggal jauh dari TPS, akan kami kirimkan surat suara via pos dan mereka akan mengirimkan kembali hasil coblos via pos juga,” katanya.

Ia menegaskan bahwa WNI di Selandia Baru akan menjadi pemilih pertama karena perbedaan waktu sekitar enam jam lebih awal daripada waktu Indonesia Barat.

“TPSLN dibuka pada pukul 09.00,” kata alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Budi optimistis tingkat partisipasi politik WNI di Selandia Baru akan tinggi karena sosialisasi telah diberikan secara cukup dan antusiasme mereka untuk pemilu mendatang sangat tinggi.

“Apalagi kita akan memiliki pemerintahan baru,” kata Budi yang tinggal di Selandia Baru sejak Agustus 1999.

Ia menggambarkan pada Pemilu 2009 dimenangkan oleh Partai Demokrat untuk pemilu anggota legislatif dan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono untuk Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Budi dan istrinya, Wiwin, dan anak tunggalnya berusia 14 tahun telah menjadi “permanent residences” di Selandia Baru.