Cina Stop Kebijakan Satu Anak, Setelah 400 Jutaan Janin Dibunuh

Foto: offbeatchinacom

Beijing, Sayangi.com – Sepanjang sejarah Cina, banyak peristiwa yang menyebabkan ratusan, ribuan, bahkan jutaan penduduknya mati sia-sia. Salah satu peristiwa itu terjadi di era Cina modern, lewat “kebijakan satu anak”. Diperkirakan, 400 jutaan janin dibunuh, sebelum Pemerintah Cina memutuskan menghentikannya.   

Sejarah kuno Cina terekam melalui Dinasti Xia (2.100 SM–1.600SM) dan diakhiri dengan Dinasti Qing (1646–1911). Kemudian  terjadi Revolusi Xinhai (12 Febuari 1912) yang menyebabkan Kaisar Xuantong turun tahta. Sebulan kemudian, 12 Maret 1912,  Republik Cina berdiri dengan Sun Yat Sen sebagai Presiden pertama.
 
Selama kurang lebih 4.000 tahun, sejarah Cina ditandai berbagai pertikaian berdarah antardinasti dan Kekaisaran (18 dinasti dan ratusan Raja/Kekaisaran), menyebabkan miliaran manusia mati sia sia. Perang saudara ini berlanjut di masa pertikaian Partai Komunis Cina (pimpinan Mao Ze dong) dan Partai Nasionalis Kuomintang (pimpinan Chingkaisek), baik sebelum maupun sesudah Perang Dunia II, menyebabkan jutaan orang Cina tewas.

Sejak 1949, setelah kekalahan Kuomintang, Cina dipimpin Partai Komunis dibawah pimpinan Mao Ze Dong, dan Republik Cina berganti menjadi Republik Rakyat Cina, hingga kini.
 
Adalah fakta, Cina dihuni oleh sekitar 1,350 miliar manusia, terbesar di dunia. Di era Mao Ze Dong (1949-1976), penduduk yang banyak ini dianggap sebagai sumber. Mao percaya, penduduk yang banyak merupakan tulang punggung ekonomi, terutama tenaga kerjanya untuk kelangsungan kehidupan ekonomi dan pembangunan kekuatan Tentara Merah di Cina. Tapi pada masa ini juga jutaan rakyat Cina tewas karena kelaparan, karena pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Saat itu, Cina memiliki penduduk 940 juta.

Berbeda dengan Mao Ze Dong, penggantinya Deng Xioping melihat 940 juta penduduk Cina sebagai beban ekonomi. Karena itu, tahun 1979 Deng melakukan terobosan dengan memberlakukan program Keluarga Berencana yang terkenal dengan “Kebijakan Satu Anak”. Namun akibat kebijakan ini, tidak kurang 400 juta janin bayi tanpa dosa dibunuh.

Hikmah apa yang dapat dipetik dibalik pengorbanan yang luar biasa ini? konsekwensi kebijakan satu anak ini telah membawa pembangunan ekonomi Cina tumbuh luar biasa. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata 10% per tahun, Cina bangkit menjadi kekuatan ekonomi raksasa dunia kedua setelah Amerika Serikat. Bahkan Cina menjadi satu-satunya negara komunis yang cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar bebas.

Pada tahun lalu, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir, penduduk Cina yang berada pada pertumbuhan usia produktif menurun drastis. Menurut sejumlah pengamat ekonomi di Cina, penurunan ini adalah ancaman serius terhadap perekonomian negeri. Alasannya jelas, upah tenaga kerja yang menjadi roda penggerak ekonomi akan semakin mahal.

Selain itu, kebijakan satu anak di Cina ternyata mempertinggi jumlah manusia berusia lanjut (manula). Kebijakan Cina menghindari kelebihan penduduk telah membantu mempercepat perkembangan ekonomi bangsa, tapi dengan adanya penyusutan tenaga kerja justru bisa melemahkan pertumbuhan.

Karenanya, Cina kini melonggarkan “Kebijakan Satu Anak” yang sudah puluhan tahun diterapkan, sehingga memungkinkan pasangan memiliki dua anak, demikian keputusan kunci Partai Komunis Cina pada Jumat (15/11). Mantan Wakil Menteri Kesehatan Cina, Huang Jiefu mengatakan, “Kebijakan Satu Anak” sudah usang dan tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

Sementara Wang Feng, seorang ahli kependudukan dan Direktur sebuah LSM yang menangani kebijakan publik menilai, sudah saatnya Pemerintah Cina mengakhiri kebijakan tersebut, dan menggantinya dengan kebijakan yang lebih manusiawi. (MSR)