Semudah Inikah Flo Bebas?

Foto: Youtube

Jakarta, Sayangi.com – Pernyataan mengejutkan datang dari pihak kepolisian terkait kasus perusakan rumah dan properti istri kedua pengusaha Adiguna Sutowo di kawasan Pulomas Jakarta Timur beberapa waktu lalu, bahwa intitusi kepolisian menyatakan telah menghentikan penyidikan terhadap kasus tersebut. Padahal, hingga kini Anastasia Florine Limasnax alias Flo yang ditetapkan sebagai tersangka perusakan tersebut belum juga dapat diperiksa lantaran tak ada yang mengetahui keberadaannya hingga detik ini.

Vika Dewayani sebagai pelapor memang telah mencabut gugatannya dihadapan penyidik beberapa waktu lalu, namun polisi juga pernah menyatakan bahwa meskipun Vika telah mencabut gugatannya, kasus perusakan rumah Vika ini tidak akan dihentikan sebelum tersangkanya yakni Anastasia Florina Limasnax tertangkap atau menyerahkan diri ke pihak kepolisian.

“Penyidik perlu memeriksa Flo (panggilan Anastasia Florina), karena keterangannya dibutuhkan untuk ungkap motif dari kejadian tersebut. Kalau Flo belum datang, maka kasus ini tidak bisa dihentikan,” ujar Rikwanto, Selasa (21/11) lalu.

Namun apa yang terjadi kini berbanding terbalik, Kamis (05/12) juru bicara Polda Metro Jaya menyatakan kasus tersebut telah dihentikan sejak 2 Desember 2013 beberapa hari lalu. “Jadi pada tanggal 2 Desember kemarin, penyidikan kasus laporan saudari Vika dihentikan penyidikannya dan sudah di SP3 (Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan)” ujar Rikwanto.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Rikwanto juga memberikan beberapa alasan terkait penghentian kasus tersebut, diantaranya perihal kepentingan Vika yang akan keluar negeri, serta kasus ini yang masuk dalam kategori delik aduan termasuk di dalamnya masalah keluarga yang dengan mudah kasusnya dihentikan jika si pelapor telah mencabut gugatannya.

Namun institusi kepolisian ini dinilai aneh oleh beberapa pihak, termasuk oleh Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrahman. Hamidah merasa ada kejanggalan atas institusi penyidik yang memasukan kasus ini ke dalam delik aduan, bukan delik umum.

Hamidah menjelaskan delik aduan itu untuk kasus perzinahan dan masalah keluarga, sedangkan dalam di kasus ini jelas ada perusakan yang dilakukan oleh Flo, ada tindakan kriminal yang dilakukan. Jadi seharusnya masuk ke dalam delik umum, dimana proses penyidikan tetap harus berjalan meskipun pihak yang dirugikan sudah mencabut laporannya.

Kepada wartawan, Hamidah mengatakan Polda Metro Jaya hanya menggunakan alasan tidak bisa menemukan keberadaan Flo sebagai dasar penerbitan SP3. Dan menurut Hamidah, alasan yang digunakan itu sangat tidak masuk akal.

Lebih lanjut Hamidah merasa heran dengan kinerja polisi yang hingga kini belum dapat menemukan Flo. Ia mempertanyakan sosok Flo, sehebat apa Flo jika hingga detik ini belum bisa ditemukan. Hamidah kemudian meragukan kinerja kepolisian yang menurutnya polisi memang enggan mencari Flo. “Sehebat apa Flo ini sampai tidak bisa ditemukan, atau jangan-jangan polisi yang tidak mencari,” tandasnya.

Kabar Flo disembunyikan oleh petinggi-petinggi negara pun berhembus kencang. Pasalnya hingga kini tak satupun dari keluarga Flo juga mengetahui keberadaan Flo. Lalu sebegitu mudahnya Flo bebas dari status tersangka tanpa ada pemeriksaan sekalipun, entah ada perjanjian apa di antara kepolisian dengan pihak terkait kasus tersebut. Atau malah ada perjanjian di antara Adiguna, Flo dan pihak Vika yang memang sengaja tak diungkap kepada khalayak.

Sesumbar, pihak Flo bukan hanya meminta maaf, tapi juga mengganti rugi semua kerusakan dengan nilai yang fantastis. Nilai fantastis inikah yang membuat kasus dihentikan? Semua kembali kepada penilaian khalayak. (VAL)