Menag: Tanpa Kerukunan, Indonesia Tidak Ada

Foto: Sayangi.com/Dok

Banjarbaru, Kalsel, Sayangi.com – Menteri Agama Suryadharma Ali mengingatkan pada 2014 yang oleh sebagian elite disebut sebagai tahun politik karena ada perhelatan akbar berupa Pemilu – legislatif dan eksekutif. Di tahun itu, Suryadharma menyarankan hendaknya masyarakat tidak mau diadu-domba tetapi harus mengedepankan kepentingan kerukunan karena tanpa rukun maka Indonesia tak bakal ada.

“Kerukunan adalah modal bagi bangsa ini untuk mengisi pembangunan, memajukan dan menyejahterakan warga sehingga Indonesia dapat berdiri dan maju ke depan sesuai dengan kebhinnekaan yang ada,” kata Suryadharma Ali ketika memberi sambutan pelepasan gerak jalan kerukunan di Banjarbaru, Kalsel, Sabtu (7/12/2013) pagi.

Perbedaan yang ada di kalangan warga Indonesia, lanjut dia, adalah atas ciptaan Tuhan. Karena itu perbedaan karena ras, agama dan etnis hendaknya dapat dipahami dan dihormati antarsesama.

“Perbedaan tersebut wajib dihormati agar tercipta kerukunan. Dengan adanya kerukunan bangsa ini bisa membangun. Betapa pentingnya kerukunan itu, sehingga tanpa kerekunan tak bakal ada Indonesia,” jelasnya.

Dengan kerukunan pula bangsa Indonesia bisa melanjutkan pembangunan. Karena itu pula ia mengajak warga peserta gerak jalan yang jumlahnya ribuan di daerah itu dapat tetap menjaga suasana harmonis.

Gerak jalan kerukunan berhadiah umroh dan lainnya itu berlangsung meriah. Ada lima hadiah umroh, dua dari Menag Suryadharma Ali, satu dari Gubernur Kalsel Rudi Arifin, satu dari Muhammad Aditya Arifin (anggota DPR) satu lagi dari tokoh umat Buddha Kalsel Sungkono.

Bersamaan dengan acara itu, Menag Suryadharma Ali mencanangkan kampanye peningkatan penggunaan produk halal. Juga penyerahan bantuan biaya sertifikasi halal kepada UKM 13 provinsi tahun 2013, juga penyerahan bantuan siswa sebesar Rp53 milyar.

Produk halal Terkait dengan produk halal, Menag Suryadharma Ali menegaskan, penggunaan produk halal yang meliputi minuman, makanan, kosmetik dan produk lainnya diharapkan konsumen dapat memperhatikan kehalalannya. Tidak cukup pula dengan halal, juga harus toyib (baik).

“Makanan dan minuman dan produk lainnya juga harus baik. Ini bukan berlaku untuk umat Islam, tapi umat dari agama lainnya. Semua pihak wajib meningkatkan kualitas halal dan toyib karena hal itu turut menentukan kualitas hidup umat,” tegasnya.

Kepada para pedagang dan produsen, Menag mengajak agar turut memperhatikan kualitas halal dan toyib. Jangan sampai kasus makanan mengandung zat berbahaya seperti formalin dan pewarna pakaian terus berulang. Konsumen pun diminta teliti dalam menggunakan barang atau makanan yang hendak dikonsumsi.

Kepada warga Kalsel, Suryadharma Ali minta dukungan agar pembahasan rancangan undang-undang produk halal bisa segera diselesaikan pembahasannya di DPR dan pemerintah. Dengan demikian ke depan penggunaan produk halal dan toyib memiliki payung hukum.

Ikut hadir pada acara itu Gubernur Kalsel Rudi Arifin, Kakanwil Kemenag Kalsel Abdul Halim, Dirjen Pendis Nur Syam, Dirjen Bimas Hindu Tri Guna, Dirjen Bimad Katolik, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Mubarok, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenag Zubaedi, dan sejumlah pejabat dan tokoh agama dari daerah setempat. (MI/Ant)