PM Russia Kecam Kunjungan Menlu Jerman ke Kiev

Moskow, Sayangi.com – Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengecam Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle karena “campur tangan” dalam urusan internal Ukraina.

Pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Jerman melakukan perjalanan ke Ukraina untuk menghadiri konferensi Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE), di mana ia juga melakukan kunjungan ke pusat protes yang sedang berlangsung di negara itu.

Didampingi oleh dua pemimpin oposisi, menlu Jerman melakukan kunjungan ke ibukota Kiev yang menjadi pusat protes atas pemerintah karena menjauh dari Uni Eropa.

Pada Jum’at (6/12) Perdana menteri Rusia mengatakan  tidak masalah  pejabat asing bertemu dengan para pemimpin oposisi Ukraina. “Tetapi untuk berpartisipasi dalam acara tersebut,  itu namanya Campur tangan urusan internal”, Ujarnya.

Medvedev bertanya-tanya bagaimana perasaan Jerman jika menteri luar negeri Rusia pergi ke beberapa massa yang (berkumpul) yang menentang pemerintah Jerman.

“Saya berpikir mereka akan melihat ini bukanlah langkah yang baik dan benar,” tambahnya.

Protes di Kiev dipicu setelah pemerintah menahan diri dari penandatanganan Perjanjian Asosiasi dengan Uni Eropa pada KTT Kemitraan Timur ketiga di ibukota Lithuania, Vilnius, pada tanggal 29 November.

Kiev menolak untuk menandatangani kesepakatan setelah para pemimpin Uni Eropa menyerukan Ukraina untuk membiarkan pemimpin oposisi yang dipenjarakan Yulia Tymshenko agar dapat pergi ke luar negeri untuk perawatan medis.

Para pemimpin Uni Eropa menyalahkan Rusia atas penolakan Ukraina untuk menandatangani kesepakatan perdagangan tersebut.  Mereka mengatakan tidak akan membiarkan Moskow untuk “mem-veto” kesepakatan di Eropa Timur.

Ratusan ribu orang turun ke jalan-jalan Kiev dalam protes terbesar sejak Revolusi Oranye 2004-2005 yang disponsori Barat.

Pada hari Jumat (6/12), lebih dari seribu pengunjuk rasa mendirikan barikade di dekat Independence Square di Kiev, di mana mereka dikabarkan menginap untuk mengantisipasi langkah pemerintah mengerahkan pasukan polisi membubarkan para demonstran pro-Uni Eropa.

Walau bagaimanapun, polisi tidak berusaha untuk turun tangan, meskipun pasukan keamanan memblokir demonstran anti-pemerintah untuk mendapatkan akses ke jalan di mana gedung kantor kepresidenan berada.

Para demonstran bertekad untuk menetap di jalan meskipun polisi mengancam untuk membubarkan mereka. (PTV/FHR)