Diperlukan Peran Ulama Dalam Penanggulangan Terorisme

Foto: Fahri

Jakarta, Sayangi.com – Penanggulangan terorisme tidak dilepaskan dari peran ulama. Sampai saat ini Indonesia masih terus berupaya memberantas akar-akar terorisme. Dalam konteks ini, Indonesia dipuji Internasional bahkan telah menjadi model dalam penanganan terorisme.  Sudah lebih 900 teroris yang ditangkap, 600 sudah divonis. Tetapi nyatanya sampai saat ini bangsa ini masih dihantui oleh aksi-aksi terorisme.

Demikian dikatakan Kepala BNPT, Ansyad Mbai saat memberikan sambutan pada acara dialog damai bersama tiga tokoh Ulama Timur Tengah yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Terisme (BNPT), Kementerian agama, dan Dirjen permasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM bertajuk “meluruskan Penyimpangan Paham Radikal teroris di Indonesia” di Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu Malam (7/12).

Hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri Agama Prof Basarudin Umar, ulama Yordania Syekh Ali Hasan Al-Khalaby serta tokoh Jamaah Islamiyah Mesir Syekh Najih Ibrahim dan Syekh Hisyam AL-Najar.

Menurut Ansyad, penangkapan secara fisik tidak cukup dan tidak dapat menghentikan terorisme.

“Aksi teror ini berbasis pemikiran. Karenanya, perlu ada pelurusan pemahaman agama. Yang paling bisa melakukannya pelurusan ini adalah para ulama”, jelasnya.

Hal senada juga disoroti Wakil Menteri Agama. Menurutnya, ketiga ulama yang datang saat ini merupakan tokoh yang punya komitmen.

“Harapan mayoritas umat adalah ketenangan dalam mencari nafkah. Jihad mereka adalah upaya menghidupi keluarga”, ungkap Nasarudin.

Pada kesempatan itu, Syeikh Najih Ibrahim mengatakan bahwa kita tidak punya hak untuk menghakimi atau mengafirkan orang lain.

“Bukan tugas kita untuk memastikan orang masuk surga atau neraka. Tugas kita adalah menyampaikan petunjuk Allah”, tambahnya.

Sementara itu, Syeikh Ali Al Khalabi membagi jenis terorisme ke dalam dua kategori, yaitu terorisme berbentuk sosial dan pemikiran. Terorisme dalam bentuk sosial dapat ditangani  oleh negara dan polisi.

“Dalam bentuk pemikiran, hanya orang yang punya ilmulah yang dapat menanganinya”, imbuhnya.

Perlu diketahui, ketiga ulama Timur Tengah tersebut akan berada di Indonesia selama sepekan. Mereka akan melakukan dialog dengan Narapidana terorisme di Nusakambangan dan Cipinang. Selain itu, mereka juga akan berbagi pengalaman melalui seminar-seminar dan dialog di media. (FHR)