Petani Tanam Saham untuk Perusahaan CPO

sayangi.com/doc

Banjarmasin, Sayangi.com – Petani sawit di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, yang tergabung dalam koperasi perkebunan Sinar Kencana kini ikut menanam saham agar bisa memiliki perusahaan CPO.

Dengan adanya perusahaan CPO yang kini sedang dibangun oleh koperasi petani PT Batulicin Agro Sentosa, petani berharap bisa memperoleh keuntungan jangka panjang, kata Ketua Koperasi Perkebunan Sinar Kencana Amin Nugroho, di Batulicin, Kamis (12/12).

Ia mengungkapkan, untuk membangun perusahaan kelapa sawit ini pihaknya membentuk PT yang bernana Batulicin Agro Perkasa.

“Kalau biasanya yang bermain saham adalah pengusaha dan pemilik uang yang banyak, kini petani kita coba ajak untuk ikut memiliki saham,” katanya.

Menurut dia, pemikiran untuk membangun pabrik kelapa sawit milik petani berawal dari keprihatinan bahwa hampir 70 persen perusahaan perkebunan di daerah ini dikuasai asing.

“Tentu ini sangat tidak baik untuk jangka panjang, karena tidak menutup kemungkinan ke depan para petani hanya akan menjadi penonton dan karyawan, sementara yang menikmati keuntungan besar adalah pihak asing,” katanya.

Mengantisipasi kondisi tersebut, kata dia, koperasi perkebunan Sinar Kencana berteked untuk membangun perusahaan atau PT, kendati pada saat itu belum memiliki modal.

“Kalau biasanya PT yang memiliki koperasi, kini kami balik koperasi yang memiliki PT, dan akhirnya terbangunlah BT Batulicin Agro Sentosa (BAS),” katanya.

Saat ini, pembangunan perusahaan asli milik petani tersebut telah mencapai 45 persen dari dana penjualan saham dari petani pemilik perkebunan dengan dana yang terhimpun sekitar Rp35 miliar dari hasil penjualan saham sebanyak 15 ribu lembar.

Menurut dia, investasi pembuatan PKS ini mencapai Rp120 miliar, terdiri atas 35 persen atau Rp42 miliar dari koperasi dan sisanya 65 persen atau 78 persen direncanakan untuk pinjam ke bank.

Kini telah ada dua bank yaitu BRI dan Bank Kalsel, yang siap untuk mendanai rencana produksi perusahaan petani tersebut.

Perusahaan ini nantinya akan mampu memproduksi CPO hingga TBS 30 ton perjam, ekstension 60 ton per jam atau ke depannya perusahaan dirancang untuk mampu produksi hingga 60 ton per jam.

PKS perkebunan rakyat ini juga akan menampung dan mengolah TBS dari milik lahan petani sendiri.

Sehingga selain memberikan jaminan dan kepastian harga jual Tandan Buah Segar (TBS) sesuai ketentuan, juga yang lebih pening petani bisa meraskan hasil penjualan CPO dan Karnel, sehingga penghasilan petani menjadi berlipat ganda.

Terkait permodalan dan saham, modal investasi PKS diperoleh dari penjualan sertifikat modal koperasi (SKM) anggota khusus dimana nilai SMK dihitung dalam satuan lembar SMK.

Harga nominal perlembar SMK atau saham ditetapkan Rp2,5 juta dan biaya administrasi Rp100 ribu perlembar dengan total saham atau SKM yang dijual adalah 16.800 lembar.

Sedangkan keuntungan dari pembelian saham, akan dinikmati pada 2015 dengan keuntungan pertama Rp1,3 juta perlembar saham.

Keuntungan tersebut, kata Amin, merupakan keuntungan awal dengan produksi dari total kapasitas pabrik 60 persen, dan secara per lahan akan terus meningkat.

Saat ini, kata dia, lahan yang dimiliki anggota koperasi mencapai 10 ribu hektare dengan total petani 3.500 orang. Sedangkan petani yang membeli saham baru mencapai 2.700 orang.

“Perlu diketahui, keuntungan pabrik dengan kapasitas 30 ton per jam adalah Rp15 miliar per bulan,” katanya.

Saat ini, terdapat sekitar 300 ribu hektare lahan milik perusahaan swasta, sedangkan milik petani hanya sekitar 65 ribu hektare, tentu jumlah tersebut sangat tidak imbang.

“Untuk itu kepada pemerintah daerah maupun provensi, sudah saatnya koperasi bangkit untuk kesejahteraan rakyat dan petani, koperasi harus dikelola secara profesional, jangan lagi dinomortigakan, koperasi juga jangan selalu menginduk ke perusahaan,” katanya. (MD/Ant)