Kisah FAMI di Penjara : Maaf, Saya Pesan Indomie. Nggak Pake Silet

Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Hari ini, 20 tahun lalu, tercatat 21 mahasiswa asal Jakarta, Bogor, Cianjur, Yogyakarta, Jombang, Surabaya, Malang dan Palembang dibekuk polisi dan tentara saat demonstrasi di gedung DPR-MPR. Tak pelak lagi para mahasiswa yang berdemo atas nama Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) itu pun ditahan di Rutan Salemba (Laki-laki) dan LP Pondok Bambu (perempuan).

Di awal 1990-an, demo kecil-kecilan memang sudah sering terjadi. Umumnya menyangkut masalah pertanahan, termasuk demo di DPR, 14 Desember 1993 itu sebenarnya dilatar-belakangi demo persoalan tanah. Tapi tiba-tiba, sejumlah aktivis, khususnya dari luar Jakarta kaget saat ada spanduk bertuliskan “Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR-RI.”

Tentunya, soal penangkapan dan persidangannya sudah banyak dikupas media massa. Di luar itu, banyak cerita-cerita kecil yang hanya beredar di lingkungan aktivis.

Sebut saja Almarhum Farid Rasyad, warga desa Tanjung Atap, Ogan Ilir. Semasa masih hidup dia sempat bercerita kepada Sayangi.com. “Lin, aku tuh sebenernya cuma nak pelatihan di Bina Desa. Tapi ngapolah aku melok bae diajak Agustiana (aktifis pertanahan asal Garut) demo ke DPR,” ujar Farid Rasyad.

Selama di penjara, Farid Rasyad, satu-satunya yang bukan mahasiswa memang sering terlihat hanya mengenakan celana kolor. Rupanya, karena sering mengenakan celana kolor itu dia dianggap unik oleh Yudith, perempuan berkewarganegaraan Inggris yang selanjutnya menikah dengan Farid selepas dari penjara.

Tapi sayang, setelah punya satu momongan Yudith bersama anak semata wayangnya pulang ke Inggris. Sejak itu kondisi kejiwaan Farid labil. Terakhir kali Farid terkena depresi berat dan menjalani hidupnya di Rumah Sakit Jiwa )RSJ) Palembang. Di RSJ itu, lebih dari setahun lalu Farid menghembuskan nafas terakhirnya.

Tak kalah uniknya, kisah yang dialami Teddy Wibisono yang bersama Yenny Rosa Damayanti terbilang paling senior. Kala itu Teddy sesungguhnya sudah bekerja menjadi detailer sebuah perusahaan obat. Sepulang dari bekerja naluri aktivisnya muncul, dia yang tinggal di Bendungan Hilir hanya berseberangan jalan dengan gedung DPR, begitu melihat ribut-ribut Teddy mendatangi gedung DPR.

“Di situlah saya ditangkap. Masih mengenakan seragam kantor,” kenang Teddy yang ketika itu sudah berkeluarga dan memiliki satu orang anak bernama Arif. Kini Arif yang dulu setiap bezuk ke Salemba jadi momongan para aktifis sudah menjadi mahasiswa di Yogyakarta. ” Dia sekarang Ketua Pers Mahasiswa,” ucap Teddy saat ditemui Sayangi.com di sebuah restoran di Jakarta, Jumat (13/12) kemarin.

Karakter aktivis FAMI memang beragam. Ada yang kalem seperti Antony Ratag (Unair, Surabaya), Nicodemus Tuturong (UNAS, Jakarta), Andrianto (UNAS, Jakarta) maupun Piryadi (Darul ‘Ulum, Jombang). Tapi ada juga yang terobsesi menjadi musisi rock hingga gagang sapun pun dijadikan gitar seperti Huda (Darul ‘Ulum, Jombang).

Ada pula yang saat dipenjara justru buka warung. Dialah Hendrick Dickson Sirait (UNAS, Jakarta) yang lebih akrab dipanggil Iblis. Di Rutan Salemba itu Iblis jualan Indomie. Namanya juga di penjara, untuk memotong sawi atau merajang cabe dan mengoyak bumbu tidak boleh menggunakan pisau. Dipakailah silet.

Suatu saat dia mendapat pesanan Indomie. Saking asyiknya, silet yang biasa digunakan memotong sawi dan mengoyak bumbu plastik tertinggal di mangkok. “Ada yang protes, Lin. Bang, maaf, saya hanya pesan Indomie. Nggak pakai silet,” kenang Iblis yang kini membuka kedai kopi Bhinneka di samping Sekretariat Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem).

Kini, para aktivis yang kebanyakan saat ditangkap masih segar-segar, berumur sembilan belasan dan dua puluhan, sudah beranjak tua. Selamat berulang tahun ke-20 FAMI. (MD)