FAMI dan Gerakan Mahasiswa Awal 1990-an

Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Runtuhnya tembok Berlin pada 9 November 1989 mengakhiri perang dingin antara Blok Kapitalis dan Blok Komunis. Demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) menjadi isu utama di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Sejak itu, gejolak perlawanan yang di tahun 1980-an lebih diwarnai gerakan Islam yang terinspirasi Revolusi Iran mulai bergeser ke gerakan-gerakan yang dimotori mahasiswa dan sejumlah aktivis organisasi non pemerintah (Ornop).

Konflik-konflik pertanahan di sejumlah wilayah Indonesia dijadikan pintu masuk aktivis gerakan membangkitkan kesadaran demokrasi dan hak azasi manusia. Mahasiswa yang pada pertengahan 1980-an bergerak di kelompok studi dan pers mahasiswa mulai turun ke petani yang kemudian secara terang-terangan bergerak melawan Soeharto.

Gerakan Islam pun ketika itu terpolarisasi. Sebagian, termasuk kelompok garis kerasnya ada yang bergabung ke Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Namun sebagian lagi, sebut saja Deliar Noer dan Dahlan Ranoewihardjo masih bergerak di luar system dan bergabung gerakan-gerakan perlawanan yang digalang mahasiswa dan aktivis Ornop.

Dari sana pula muncul gerakan perlawanan terhadap Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Namun gerakan yang melibatkan sejumlah Kyai dan Habib itu, di tengah itu (Alm) Nuku Soleiman mengedarkan striker SDSB = Soeharto Dalang Segala Bencana. Itu lah gerakan awal 1990-an yang secara terang-terangan menentang pemerintahan Soeharto.

Nuku Soleiman pun ditangkap. Tapi sebelum Nuku, sebenarnya di penghujung 1980-an ada Bambang Suryadi alias Beathor yang ditangkap oleh Satpam di Kampus Universitas Indonesia (UI) saat menyebarkan selebaran gelap anti Soeharto.

Setelah penangkapan Nuku Soleiman, pada pertengahan 1994, pemerintahan Orde Baru juga menangkap Tri Agus Susanto Siswowihardjo yang menulis berita di Kabar dari Pijar dengan judul “Adnan Buyung Nasution : Negeri ini Dikacaukan oleh Seorang yang Bernama Soeharto”.

Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) awalnya merupakan konsolidasi mahasiswa antar kota, terutama di Pulau Jawa. Saat itu pula telah terjadi konflik pertanahan di Sampang dan tempat-tempat lain yang bahkan memakan korban jiwa. Mahasiswa yang bergabung dalam FAMI pun bergerak ke gedung DPR-MPR mengadukan nasib mereka.

Namun di luar setting yang telah disepakati pada rapat aksi malam harinya, tiba-tiba muncul spanduk panjang bertuliskan “Seret Presiden Soeharto ke Sidang Istimewa MPR”. Spanduk panjang itu yang tampaknya menjadi spanduk utama yang dipegang mahasiswa dalam aksi itu.

Akhirnya aksi 14 Desember 1993 itu pun dibubarkan aparat keamanan. Tercatat 21 mahasiswa dari sejumlah kota ditangkap dan dipenjarakan. Mereka divonis bervariasi, ada yang 8 bulan penjara, ada yang 10 bulan penjara dan yang terberat dengan vonis 16 bulan penjara. “Penjara tidak membuat kami jera,” seru mereka di persidangan.

Persidangan FAMI memang benar-benar menjadi ajang konsolidasi mahasiswa, terutama di sejumlah kota di Jawa. Sejumlah aktivis di berbagai kampus perguruan tinggi mulai merekrut kader-kader baru yang lalu biasanya dibawa ke persidangan. Gerakan mahasiswa pun mendapatkan amunisi untuk membangkitkan kesadaran bernegara.

Tapi di luar itu sesungguhnya, marwah Soeharto di kalangan pendukungnya sendiri mulai pudar. Split elite yang menjadi satu diantara syarat kejatuhan rejim mulai menggejala. Kala itu sudah terdengar kabar, sejumlah perwira TNI diam-diam menyiapkan sekoci barunya untuk mengantisipasi paska Soeharto.

Tentu saja dari gerakan kecil-kecil dan massif awal 1990-an yang disebut Anders Uhlin “Oposisi Berserak” itu secara dialektis terus menggelindingkan gerakan-gerakan yang lebih massif. Sebut saja di kampus UGM yang diprakarsai Anis Baswedan muncul Gerakan Mahasiswa Purna Orde Baru (Gempur Deru) dan masih banyak lagi.

Di sini sesungguhnya, FAMI dan gerakan-gerakan pada awal 1990-an lainnya memiliki peran penting dalam mengawali Gerakan Reformasi 1998. Akhir cerita, selamat berulang tahun FAMI. Boleh saja kalian bersimpang jalan, tapi semoga tidak bersimpang tujuan. (MD)