Jalan Panjang dan Berliku Kerjasama ASEAN-Jepang

Foto: mod.go.jp

Tokyo, Sayangi.com – Tahun 2013 menandai usai kerjasama antara Jepang dan organisasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) memasuki usianya yang ke-40 tahun dengan perkembangan pesat pola kerjasama dan keterkaitan yang semakin erat.

Peringatan 40 tahun kerjasama Jepang dan ASEAN ditandai dengan pelaksanaan KTT istimewa di Tokyo yang dihadiri oleh pemimpin negara-negara anggota ASEAN dan diharapkan menghasilkan sebuah visi jangka menengah dan panjang untuk kerjasama tersebut.

“Empat puluh tahun hubungan antara ASEAN dan Jepang telah menunjukkan pada kita mengenai sebuah hubungan. Mari kita dorong dan lanjutkan hubungan tersebut di masa depan dengan sentuhan mendalam di hati kita,” kata Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat melangsungkan Jamuan Makan Malam menyambut kehadiran para pemimpin negara ASEAN seperti dikutip dari laman resmi Perdana Menteri Jepang, Jumat (13/11/2013)

Abe mengatakan Jepang dan ASEAN merupakan mitra kerjasama yang berbagi visi dan identitas dan mitra untuk berbagi di masa depan.

“Kita bersama-sama menginginkan adanya perdamaian dan stabilitas, kesejahteraan dan kehidupan yang lebih baik dan kerjasama yang didasari dari hati ke hati,” katanya.

Seperti dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri Jepang dan ASEAN-Jepang Centre, perjalanan kerjasama antara Jepang dengan ASEAN merupakan perjalanan yang cukup panjang dengan tahap-tahapan yang terus meningkat dari masa ke masa.

Kontak pertama antara Jepang dengan ASEAN setelah organisasi kawasan itu terbentuk pada 1967 adalah pada 1973 ketika PM Jepang Takeo Fukuda membuka forum dialog informal dengan ASEAN yang kemudian menjadi forum resmi pada 1977 yang kemudian dikenal dengan Forum ASEAN-Jepang.

Pada 1973 disepakati adanya hubungan kemitraan antara Jepang dengan ASEAN dalam bidang karet sintetis. Sebelum pada 1977 secara resmi ada forum ASEAN Jepang, dalam KTT ASEAN di Bali 1976, dibicarakan dan dimatangkan kesiapan kerjasama yang saling menguntungkan antara ASEAN dengan Jepang yang kemudian diputuskan secara formal pada KTT ASEAN 1977 di Kuala Lumpur.

Pada 1998 setelah keanggotaan ASEAN bertambah dari lima negara diikuti kemudian oleh Brunei Darussalam pada 1984, Vietnam pada 1995 dan Laos serta Myanmar pada 1997 maka pada 1998 dilangsungkan pertemuan formal ASEAN + Three yaitu (Jepang, China dan Korea Selatan) sebagai mitra dialog.

PM Abe dan ASEAN Saat dilantik sebagai Perdana Menteri Jepang pada awal 2013, Shinzo Abe merumuskan sejumlah kebijakan termasuk di dalamnya kebijakan luar negeri yang mendekatkan peran Jepang dengan negara-negara anggota ASEAN.

Itu dibuktikannya dengan 10 bulan pertama masa jabatannya telah mengunjungi 10 negara anggota ASEAN.

Saat menghadiri KTT ASEAN-Jepang ke-16 di Brunei Darussalam, Abe mengatakan sangat senang bisa kembali menghadiri pertemuan tersebut dimana ia terakhir menghadirinya pada 2006 saat menjabat Perdana Menteri.

Dalam edisi khusus The Japan Times menyambut peringatan 40 tahun hubungan Jepang-ASEAN, Shinzo Abe memberikan pandangan yang positif atas kerjasama kedua pihak dan membawa peluang kerjasama yang saling menguntungkan baik bagi Jepang maupun negara-negara anggota ASEAN di berbagai bidang.

“Jepang sangat senang dan selalu melanjutkan (upaya-red) menjadi mitra bagi ASEAN,” katanya.

Abe menegaskan,”Jepang tumbuh karena ASEAN tumbuh. Bersama-sama kita berbagi visi dan identitas dan kita berharap 40 tahun mendatang kita dapat tumbuh (dalam kerjasama-red) lebih baik lagi.” Jepang dengan kondisi perekonomian global dan juga rivalitas ekonomi dengan China menilai Asia Tenggara sebagai kawasan strategis untuk mendorong kerjasama perdagangan, investasi dan kemitraan bisnis.

Data dari ASEAN-Jepang Center yang berbasis pada data International Monetary Fund World Economic Outlook Database menjelaskan pertumbuhan GDP di kawasan ASEAN terus meningkat dengan tajam.

GDP di kawasan pada 1990 mencatat angka 357,7 miliar dolar AS menjadi 1,87 triliun dolar AS pada 2010 dan diprediksi akan meningkat hingga 4,63 triliun pada 2030.

Volume perdagangan kawasan Asia Tenggara juga tercatat meningkat drastis dari nilai ekspor kawasan 71,73 miliar dolar AS pada 1980 menjadi 144,4 miliar dolar AS pada 1990, kemudian 426,5 miliar dolar AS pada 2000 kemudian menjadi 1,497 triliun dolar AS pada 2010.

Nilai impor juga meningkat dari 65,6 miliar dolar AS pada 1980 menjadi 163,3 miliar dolar AS pada 1990, 369,0 miliar dolar AS pada 2000 dan kemudian 955,7 miliar dolar AS pada 2010.

Sikap Indonesia Indonesia sendiri menilai kerjasama di kawasan dengan tujuan yang baik dan saling menguntungkan dapat membantu stabilitas dan keamanan kawasan yang pada akhirnya akan menguntungkan masing-masing negara di kawasan tersebut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat bertemu dengan PM Shinzo Abe sehari sebelum pelaksanaan peringatan 40 tahun hubungan kerjasama ASEAN-Jepang mengatakan kerjasama antara Indonesia dan Jepang dapat menjadi salah satu pilar stabilitas dan keamanan kawasan.

“Indonesia menyarankan agar dibangun kerja sama erat antara Jepang dan Indonesia, Jepang dan ASEAN dan Jepang dengan negara lain agar memberikan kontribusi pada perdamaian seperti yang kita inginkan,” kata SBY.