Kisah FAMI di Persidangan : Eksepsi Unik Saep Lukman

Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Persidangan 21 aktivis mahasiswa Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) memang diwarnai berbagai kejutan. Pernah suatu ketika, aktivis Pijar Tri Agus Susanto Siswowihardjo yang lebih dikenal dengan panggilan TASS, membagi-bagi kaos warna hitam kepada pengunjung sidang.

Setelah itu mereka digiring ke tanggul kali yang membelah Jl Gajahmada dan Jl Hayam Wuruk, persis di seberang kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Rupanya kaos itu puzzle yang setelah berdiri satu-satu di tanggul kali baru terbaca tulisan Keep On Fighting for Democracy.

Lain lagi persidangan Rabu, 16 Maret 1994 saat pembacaan Eksepsi. Adalah Saef Lukman Al Halaz yang mengawali eksepsinya dengan ayat suci Al Qur’an dan setelah itu membacakan Ayat Kursi. Selanjutnya, mahasiswa universitas terbuka jurusan administrasi negara ini menyampaikan eksepsinya dalam bentuk puisi.

“Manusia macam apa saya ini, kalau melihat penderitaan rakyat, hanya tinggal diam. Manusia macam apa saya ini, kalau melihat penderitaan penduduk Nipah yang mempertahankan tanah leluhurnya hanya tinggal diam. Manusia macam apa saya ini kalau melihat terjadinya kolusi antara pejabat tinggi negara dengan pengusaha hingga merugikan negara Rp 1,3 triliun. Melihat kenyataan kemungkaran itulah, kami menyampaikannya melalui demontrasi di DPR itu,” tuturnya berdeklamasi.

“Ternyata, setelah kami tidak mau melihat kemungkaran itu akan berlanjut, dan melaporkannya pada para wakil rakyat di DPR, kami mahasiswa FAMI ditangkap, ditahan, dihina dan sekarang didakwa menghina presiden,” lanjutnya.

“Saya tetap tidak mengerti logika kekuasaan. Masa ada rakyat yang akan menyampaikan aspirasinya melalui lembaga resmi yang sesuai dengan prosedur langsung ditangkap. Ini negara republik, bukan kerajaan,” begitu Saef mengakhiri deklamasinya, disambut applaus pengunjung sidang. (MD)