Waketum DPP PGK: Indeks Demokrasi Kita Konsisten Menurun

Foto: sayangi.com/Emil Ondo

Jakarta, Sayangi.com – Dalam demokrasi ada 3 komponen, yaitu civic liberty (kebebasan masyarakat sipil), political right (hak politik) dan institusionalitation democration (kelembagaan demokrasi). Dalam konteks pelaksanaannya  di Indonesia, indeks demokrasi ini konsisten mengalami penurunan sejak 2010 hingga 2012.

Demikian dikatakan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Gerakan Keadilan (DPP PGK) Ade Reza Hariyadi dalam  diskusi bertajuk “Kinerja Demokrasi & Kepemimpinan Politik; Evaluasi 2013 dan Proyeksi 2014”, di sekretariat DPP PGK, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (19/12), Nara Sumber lain dalam Diksusi yang dimoderatori oleh Sekjen DPP PGK ini adalah Boni Hargens seorang Pengamat Politik.   
“Memang kebebasan politik dapat kita rasakan. Dan satu-satunya harapan bagi demokratisasi kita adalah menjaga kondisi civic liberties atau kebebasan masyarakat,” ujar Reza.

Tapi masalahnya, lanjut Reza, civic liberties ternyata memperluas tirani mayoritas. Demokrasi kita juga mengakibatkan gangguan politik (political disorder).

“Demokrasi kita hanya memberikan kesempatan kepada orang kaya saja. Jadi jangan bermimpi kita bisa memberantas korupsi hanya dengan penegakan hukum (law enforcemen),” jelasnya.

Ditambahkan oleh Reza, proses politik mengalami komodifikasi, berimbas pada kehidupan  politik yang penuh dengan korupsi dan perburuan rente.

Lebih lanjut Reza menyinggung juga kinerja KPK yang masih tebang pilih, “Kita perlu mendorong KPK agar lebih fair dalam menegakan hukum. Tidak ada tebang pilih,” jelas kandidat doktor politik itu.

Wajah lain dari demokrasi kita, tambahnya, adalah indeks kemiskinan yang naik. Zaman sekarang ketimpangan sangat jauh.

“Di satu sisi kita memproduksi sekelompok kecil orang kaya, di lain sisi kemiskinan semakin meluas,” imbuhnya.

Reza menjelaskan, kinerja demokrasi kita miskin sistem representasi. Apa yang diinginkan publik mustinya menjadi mandat bagi yang menjabat.

“Kekuasaan menumpuk kapital, sedangkan masyarakat semakin terpuruk,” tuturnya.

Terkait konstituen, menurut Reza  adalah persoalan pemilu 5 tahunan yang sangat dipengaruhi pemodal. Siapa yang kasih modal dia bisa berkuasa.

“Problemnya di Indonesia, anda dibohongi hari ini dan 5 tahun lagi dibohongi untuk memilih mereka,” pungkasnya. (VAL)