Sepanjang 2013 Polres OKU Tangani 24 Kasus Mesum

Sayangi.com/Istimewa

Baturaja, Sayangi.com – Kepolisian Resor Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, selama 2013 telah menangani 24 kasus asusila alias mesum seperti perkosaan, pencabulan, dan kekerasan dalam rumah tangga di daerah tersebut.

Ironisnya, sebagian besar korban dari kasus asusila itu masih di bawah umur dan pelakunya merupakan orang yang dikenal si korban, kata Kapolres Ogan Komering Ulu (OKU), AKBP Mulyadi SIk MH, melalui Kasat Reskrim, AKP Zulkarnain SIk serta Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Brigadir Polisi Yulia Fitrianti di Baturaja, Kamis.

Menurut Yulia, dari 24 kasus asusila di OKU sebagian besar korbannya masih di bawah umur, bahkan ada yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sementara pelaku sendiri, kata Yulia, merupakan orang yang dikenal korban, baik itu pacar, sahabat, tetangga termasuk ayah kandung sendiri.

“Ini yang membuat kita sebagai penyidik menjadi prihatin melihat ulah para pelaku yang terbilang biadab,” tegasnya.

Mengenai modus yang dilakukan para pelaku asusila itu, sebagian besar dilakukan dengan bujuk rayuan akan menikahi korban, tetapi ada juga dilakukan dengan mengancam korban.

“Khusus kasus yang dilakukan atas dasar suka sama suka biasanya baru terungkap saat korban akan dicampakkan pelaku,” ungkapnya.

Ia mengatakan, melihat kondisi kasus asusila yang terjadi di Wilayah Hukum Polres OKU, pihaknya ke depan telah menjalani kerja sama dengan Dinas Pendidikan (Diknas) dan Pemkab OKU untuk membuka ruang bagi penyidik guna mensosialisasikan kepada siswa tentang bahaya seks bebas.

Dengan sosialisasi itu diharapkan para siswa, khususnya remaja putri agar mempunyai wawasan tentang bahayanya seks bebas.

“Jadi mereka tidak menjadi gampang memberikan kehormatannya kepada siapapun juga, terutama sang pacar,” tegasnya.

Selain itu, kata Yulia, pihaknya juga proaktif menggelar razia ke seluruh tempat hiburan, hotel dan kos-kosan guna mencegah terjadinya perbuatan asusila yang dilakukan kalangan remaja di OKU.

Kendati demikian, peran serta orang tua dan guru dalam mengawasi anak didiknya juga sangat diharapkan, sehingga perilaku para siswa bisa dibimbing ke arah yang benar.

“Ini tugas kita bersama, kami sebagai polisi tentu tidak bisa berbuat banyak tanpa dibantu masyarakat setempat,” katanya. (MD/Ant)