Tata Kelola Migas Jangan Terpaku Pada Lifting

Ilustrasi foto: Kementerian ESDM

Balikpapan, Sayangi.com – Pemerintah dinilai harus mengubah strategi tata kelola migas nasional, dari saat ini cenderung mengacu pada pencapaian “lifting”, menjadi tata kelola yang komprehensif dengan strategi peningkatan cadangan.

“Tujuan tata kelola migas harus mencari keseimbangan dengan meningkatkan cadangan yang lebih besar, jangan hanya monolitik ‘lifting’ yang sifatnya pragmatis jangka pendek untuk pemenuhan dana APBN,” kata Kepala Ekonom Energi Petronomist.com, Darmawan Prasodjo, di sela “Media Visit & Gathering Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), di Balikpapan, Jumat (20/12), seperti dikutip Kantor Berita Antara.

Menurut Darmawan, tata kelola migas yang hanya mementingkan target “lifting” sifatnya hanya jangka pendek dan mengarah pada kebijakan yang pro asing. Ia menjelaskan, untuk memenuhi “lifting” membutuhkan tiga komponen yaitu padat kapital, padat teknologi, dan risiko tinggi.

“Butuh modal besar, teknologi yang kompleks, dan kemampuan mengelola risiko yang sangat tinggi. Ini faktor-faktor penting yang harus dikelola dalam jangka panjang bukan hanya sekedar pemenuhan target APBN setiap tahunnya,” tegasnya.

Darmawan yang juga Komisaris Utama Ametis Ametis Energi Nusantara ini menuturkan, untuk mengkapitalisasi faktor-faktor tersebut dibutuhkan permodalan yang sangat kuat. Ia menggambarkan, Pertamina sebagai perusahaan milik negara memiliki kekuatan permodalan dan sumber daya manusia, namun perusahaan migas skala global seperti Chevron masih lebih kuat.

“Chevron dan perusahaan asing lainnya punya akses permodalan dari pasar modal Amerika Serikat, sehingga cost of capitalnya jauh lebih rendah dibandingkan Pertamina,” ujarnya. Darmawan mengutarakan, setidaknya tiga unsur pengelolaan migas di masa datang yang harus berlatar multi dimensi yaitu bagaimana membangun industri migas nasional, mengelola sumber daya alam dengan kekuatan sendiri jangka panjang.

Kedua, lifting migas yang tidak hanya sekedar pemenuhan target APBN, dan ketiga tidak bagaimana mengelola peningkatan cadangan dan produksi. Saat ini cadangan minyak nasional hanya 3,6 miliar barel, sementara lifting hanya 830.000 barel per hari, sehingga praktis cadangan tinggal 11 tahun untuk bisa ditingkatkan lagi.

“Tata kelola migas yang komprehensif dan holistik itu mengedepankan kekuatan sendiri dalam jangka panjang dengan menambah nilai dari sumber daya alam (“resource”) menuju peningkatan cadangan dengan membangun industri migas nasional,” ujarnya. Untuk itu tambah Darmawan, dalam rangka meningkatkan produksi migas nasional, pemerintah harus cepat dan berani mengembangkan energi non konvensional.

Saat ini negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China gencar mengembangkan energi non konvensional dengan target melampauai produksi migas negara-negara Arab. Darmawan menambahkan, mengembangkan lapangan offshore dan energi non konvensional memang bukan kegiatan yang murah, karena diperlukan teknologi khusus untuk memperoleh produksi yang maksimal.

Untuk mengembangkan energi non konvensional dibutuhkan dana berkali-kali lipat dari investasi di energi konvensional. “Pemerintah seharusnya berani mengambil kebijakan yang dapat meringankan investor, dengan insentif pajak atau dari bagi hasilnya,” ujarnya. (MSR)