Kenangan Adik Tiri Obama: Ayah Kami Pemabuk dan Penggemar KDRT

Foto: CNN

Hongkong, Sayangi.com – Ayah kandung Presiden Amerika Serikat Barack Obama memang cerdas dan brilian. Tapi dia juga pencandu alkohol dan gemar melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Hal itu diungkapkan saudara tiri Barack Obama, Mark Obama Ndesandjo, saat wawancara khusus dengan CNN. Mark yang usianya beberapa tahun lebih muda dari Presiden Obama, menggambarkan ayah mereka sebagai pria yang cerdas dan brilian, tapi juga pecandu alkohol, agak kurang gaul, dan suami yang kasar. “Aku ingat suara jeritan ibu suatu ketika, dan aku juga ingat suara sesuatu yang pecah atau terjatuh,” katanya.  

“Saya menyesal, saat itu tidak bisa melindunginya. Sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan sebagai seorang anak,” cerita Mark, yang mengaku saat itu berumur kira-kira 6 atau 7 tahun. Mark menggambarkan, jika sedang marah, ayahnya bisa berperilaku sangat mengerikan. “Ayah pernah menghampiri dan menaruh pisau di tenggorokan ibu,” katanya.

Presiden Barack Obama sendiri, kata Mark, pernah bertemu ayah mereka sekali, sebelum ibu Obama bercerai. Mark Ndesandjo dan Barack Obama memiliki bapak yang sama, namun ibu berbeda. Ibu Presiden Obama adalah istri kedua, sedangkan ibu Ndesandjo istri ketiga.

Tidak seperti Obama, Ndesandjo tumbuh besar bersama ayahnya. “Presiden beruntung, dia tidak pernah tinggal bersama ayah kandungnya,” papar David Maraniss, penulis buku “Barack Obama: The Story”. “Jika Obama tinggal bersama ayah kandungnya, ia pasti akan menjadi pendidikan yang jauh lebih sulit,” ujarnya.

Dalam beberapa hal, keluarga besar Obama punya perbedaan pandangan, dan itu kerap menimbulkan ketegangan. Ndesandjo bilang, “Menurut saya, Barack, saya tidak tahu apakah dia menerima fakta soal kekerasan itu. Tapi setidaknya dia tidak ingin tahu rincian pemukulan yang terjadi dalam keluarga kami.” Jadi, kata adik tiri Obama ini, “Saya mencintai dia. Dia seorang presiden yang hebat. Tapi kadang-kadang dia juga seorang kakak yang buruk.”

Gedung Putih belum berkomentar tentang hal itu. Namun dalam sebuah wawancara tahun 2009 dengan CNN, Obama pernah mengatakan, ia tidak buta terhadap kekurangan ayahnya. “Bukan rahasia bahwa ayah saya adalah orang yang bermasalah. Siapa saja yang telah membaca buku pertama saya, ‘Dreams from My Father’, pasti tahu, dia punya masalah dengan alkohol, dan tidak memperlakukan keluarga dengan sangat baik,” katanya. “Jelas itu adalah bagian yang menyedihkan dari sejarah dan latar belakang saya.”

Ndesandjo dan Obama memiliki beberapa kesamaan: kelihatan memiliki wajah yang mirip, etnis birasial, ayah yang sama dan masing-masing memiliki seorang ibu Amerika. Ketika mereka pertama kali bertemu di Kenya pada 1980-an, Ndesandjo yang tumbuh dewasa di Afrika sedang mencoba mencari akar Amerikanya. Sebaliknya, pada saat bersamaan, Obama yang datang dari Amerika justru sedang mencari sisi Afrikanya, dan mencoba untuk menemukan lebih banyak tentang dirinya dan identitasnya. “Saya menghormati itu, tapi saya juga merasakan ada penolakan dari dia yang berbudaya Barat,” kata Ndesandjo.

“Saya merasa bahwa saudara saya Obama – pada waktu itu – merasa bahwa aku terlalu putih,” terang Ndesandjo. Sebaliknya, “Saya pikir dia terlalu hitam.” Namun Ndesandjo mengatakan, ada juga hal-hal yang ia syukuri, termasuk posisi kakaknya yang kini menjadi Presiden, karena membuat nama keluarga besar Obama menjadi harum. Ketika beberapa tahun yang lalu mereka bertemu kembali setelah 20 tahun berpisah, mereka berbagi banyak hal baik.

“Kami tertawa, berpelukan. Itu salah satu momen paling indah dalam hidup saya. Dan Barack memungkinkan hal itu terjadi,” katanya. Ndesandjo yang kini tinggal di Hongkong berharap keluar besarnya menyadarkan banyak pihak tentang bahaya kekerasan dalam rumah tangga. Karena KDRT pun ternyata pernah terjadi pada keluarga besar seorang Presiden negara adikuasa. (MSR/CNN)

Berita Terkait

BAGIKAN