Bisnis Migas Harusnya Jadi Kunci Kesejahteraan Rakyat

Foto: Sayangi.com/Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Bisnis migas adalah bisnis yang padat modal, padat teknologi, dan padat risiko. Karena itu harus dikelola dengan benar, agar bisa menjadi kunci mensejahterakan rakyat.

Demikian pendapat yang mengemuka di acara seminar minyak dan gas (migas) bertajuk “Evaluasi Bisnis Migas 2013 dan Proyeksi Bisnis Migas 2014”, yang diselenggarakan oleh Institut Prokamasi (IP) di Jakarta Media Center (JMC), Gedung Dewan Pers di Jl. Kebonsirih, Jakarta Pusat, Sabtu (21/12).

Seminar yang menghadirkan Direktur Eksekutif Institut Proklamasi Arief Rahman, Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro, dan Ketua Bidang Energi PB HMI Mu’min itu mengevaluasi dan memproyeksi peran sektor migas dalam menunjang perekonomian nasional.   

Kepala Humas SKK Migas Elan Biantoro menjelaskan, hal yang mengkhawatirkan adalah, mulai 1995 sampai sekarang produksi minyak terus menurun, apalagi di masa mendatang cadangan minyak Indonesia juga makin berkurang. Karena itu, orientasi ke masa depan harus menjadi prioritas. “Yang masih banyak adalah cadangan gas. Makanya tahun 2018 dan 2019 kita akan banyak mengekplorasi sumber gas-gas kita untuk keperluan energi dan bisnis.”

Di sisi lain, “Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir investasi hulu migas mengalami peningkatan. Di tahun 2013 target yang kami capai untuk volume lifting minyak 840 MBOPD, sedangkan untuk gas volume liftingnya 1240 MBOEPD (eq. 7175 BBTUD),” jelas Elan. Di tahun 2014, target volume lifting minyak 870 MBOD, sementara volume lifting gas 1.240 MBOED (eq. 7175 BBTUD). Ke depan, masih menurut Elan, SKK Migas akan menjalankan empat langkah strategis: meningkatkan cadangan minyak dan gas, mengoptimalkan penerimaan negara, memenuhi kebutuhan energi domestik, dan meningkatkan efek migas bagi kemajuan ekonomi nasional.

Sebelumnya, saat membuka acara diskusi, Direktur Institut Proklamasi Arief Rahman menyatakan, bisnis migas adalah bisnis yang padat modal, padat teknologi, dan padat risiko. Oleh karena itu, masih menurut Arief, tema ini sengaja diangkat sebagai tema diskusi, dengan harapan bisa menjadi salah kunci ekonomi yang akan mensejahterahkan rakyat Indonesia. (MSR)

Berita Terkait

BAGIKAN