Dana Talangan ke Bank Mutiara Menambah Kerugian Negara

Foto: Sayangi.com/Chapunk

Jakarta, Sayangi.com – Penggelontoran dana talangan sebanyak Rp 1,5 triliun ke Bank Mutiara yang dulu bernama Bank Century dinilai hanya akan menambah kerugian negara. Apalagi pertanggung jawaban atas dana talangan sebelumnya Rp 6,5 triliun menjelang Pemilu 2009 yang lalu juga belum jelas. Hal tersebut justru menimbulkan kecurigaan upaya penjarahan kembali dana masyarakat yang ada di LPS menjelang pemilu 2014. Demikian pandangan anggota Timwas Century DPR RI, Bambang Soesatyo.

“LHP BPK tentang kerugian negara dalam kasus Century mencapai Rp. 7,45 triliun semakin mengkonfirmasi pemberian dana talangan tambahan Rp. 1,5 triliun tidak tepat sasaran dan semakin menambah besar kerugian uang negara. Saya curiga ada maling besar yang ingin menutup-nutupi jejaknya sekaligus mengambil keuntungan menjelang pemilu dengan terus mempertahankan Bank Mutiara yang dulu bernama Bank Century,” kata Bamsoet, sapaan akrab Bambang Soesatyo kepada sayangi.com, Senin (23/12)

Kalau LPS tetap nekad mengucurkan tambahan dana talangan sebanyak Rp 1,5triliun, itu sama saja menambah dalam potensi kerugian negara menjadi Rp 8, 2 triliun.

“Pertanyaannya, bagaimana uang negara tersebut bisa kembali? Sementara hingga kini Bank Mutiara dijual Rp 6,7 triliun pun hingga lewat waktu yang disediakan UU tidak laku-laku,” kata Bamsoet.

Menurut Bamsoet, jika mengacu pada UU LPS pasal 2, bahwa lembaga tersebut bertanggung jawab ke Presiden. Itu sama saja memberi bom waktu pada presiden yang akan datang. Maka dari itu, kata Bamsoet, Timwas Century mendesak penegak hukum untuk segera memeriksa BI serta penanggung jawab Bank Mutiara dan LPS karena diduga ada potensi kejahatan perbankan dan kebohongan publik.

“Sebab, dalam annual report Bank Mutiara sejak 2009-2012 dilaporkan selalu membukukan laba. Kenapa tiba-tiba Bank tersebut menjadi gawat darurat?,” tanya Bamsoet.

Dikatakannya, kalau kredit yang sekarang macet dan bikin CAR Bank Mutiara turun adalah kredit yang sudah macet sejak BC dulu, maka ada dugaan bahwa BI sengaja menyembunyikan informasi Bank Century yang sebenarnya, agar Sri Mulyani ketika itu mau membailout Bank Century.

“Kalau penyakit itu datangnya setelah jadi Bank Mutiara, maka manajemen Bank Mutiara yang tidak profer, padahal katanya sudah dinilai sukses, makanya dirut Bank Mutiara tersebut dipromosi jadi dirut BTN,” pungkasnya.

Bamsoet yang juga politisi dari Fraksi Partai Golkar menambahkan bahwa kejanggalan itu tidak bisa dibiarkan dan harus dibongkar. Agar tidak terulang kembali skandal Bank Century jilid II. Dan jangan-jangan talangan Rp 1,5 triliun itu, katanya, juga tidak cukup dan harus ditambah lagi. Sama seperti modus saat  menyelamatkan Bank Century.

“Dari awalnya Rp 632 miliar pada 21 November 2008, dalam waktu tiga hari bengkak menjadi Rp 2,7 triliun dan akhirnya menjadi Rp 6,7 triliun menjelang pilpres 2009,” tutup Bamsoet. (S2)