Ketua DKJ : Program TV Semakin Tidak Berbudaya

Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Ketua PW Muhammadiyah DKI Jakarta Agus Suradika mengatakan di Jakarta tidak ada budaya yang dominan. Tidak pula ada tokoh adat yang dituakan. Jika kita pergi ke Bandung, ketika ada masalah, persoalan akan selesai jika tokoh adat berkumpul.

“Bahkan organisasi kebudayaan di Jakarta seperti Bamus Betawi malah tidak bisa menyelesaikan persoalan internal,” ungkapnya.

Menurut Ketua Lembaga Kebudyaan Betawi H. Tatang Hidayat untuk menjadikan Jakarta sebagai kota berbudaya, musik tradisional telah menjadi musik pembuka di sejumlah hotel. “Tapi tetap saja kurang ada apresiasi di masyarakat,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Irawan Karseno menandaskan, orang sering menyamakan seni dengan hiburan seperti yang disiarkan di TV. Padahal, jelas Irawan, program TV semaki tidak berbudaya.

“Bahkan buruknya kualitas program penyiaran di Indonesia dipertanyakan oleh kalangan internasional seperti British Council,” jelasnya.

Kebudayaan, menurut Pengamat sosial dan Budaya Arie Batubara, merupakan sistem nilai yang dianut dan menjadi dasar untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari.

Demikan kesimpulan Dialog Publik Akhir Tahun 2013 yang digelar Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah DKI Jakarta bertajuk “Membangun karakter masyarakat Jakarta yang Sosial dan Berbudaya” yang digelar di Galeri Cafe, Taman Ismail Marjuki, Jakarta, Senin (23/12).

Tampil sebagai pembicara Ketua PW. Muhammadiyah DKI Jakarta Agus Suradika, Ketua Lembaga Kesenian Betawi H. Tatang Hidayat, pengamat
sosial dan budaya Arie Batubara dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno.

Acara diawali dengan sambutan Ketua Pengurus Wilayah Pemuda Muhammadiyah, Syahrul Hasan, ST. Dalam sambutannya, Syahrul mengatakan Pemuda Muhammadiyah kali ini sengaja keluar dari tren anak muda yang selalu bicara politik. (FHR)

Berita Terkait

BAGIKAN