Waspadalah, Obat Palsu Beredar Luas di Masyarakat

Antara

Jakarta, Sayangi.com – Bagi Antok (38) warga Semper, Jakarta Utara, pil ponstan adalah solusi ampuh setiap sakit giginya kambuh. Namun, sekitar sebulan lalu giginya justru bertambah bengkak setelah minum pil ponstan yang dibeli di warung dekat rumahnya.

Ternyata, baru Senin (23/12) pagi tadi televisi dan media online ramai memberitakan penggrebekan di Kompleks Pergudangan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. “Pantas,” ucap Antok yang segera menghubungi redaksi Sayangi.com

Dalam penggrebekan itu, Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Utara mengamankan 50 dus berisi 1,1 juta butir obat palsu merk Ponstan dan 21 dus obat bius senilai sekitar Rp.4 miliar yang diimpor dari China.

Diduga, obat-obatan palsu itu didistribusikan ke toko obat di Indonesia, termasuk yang dikonsumsi Antok. Hingga berita ditulis, polisi masih memburu dua orang yang diduga sebagai pemilik barang.

Mengutip data Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM), setiap tahunnya peredaran obat palsu cenderung fluktuatif. Tertinggi pada tahun 2009 yang nilainya mencapai Rp243 miliar, dan Rp121 miliar di antaranya merupakan obat ilegal.

Pada 2010 menurun drastis Rp46 miliar dengan Rp36 miliar di antaranya disebabkan obat ilegal. Lalu pada 2011, nilai materi akibat peredaran obat ilegal menembus Rp67 miliar dengan Rp8 miliar di antaranya karena obat palsu dan di 2012 nilainya mencapai Rp91 miliar dengan Rp85 miliar dihasilkan dari obat ilegal.

BPOM pun melacak lewat penjualan situs-situs online, ternyata pada 2012 mencapai Rp7,4 miliar dan di 2013 Rp5,5 miliar. Deputi Bidang Pengawasan Produk, Terapatik dan Napza, BPOM, Retno Tyas Utami, mengungkap jenis obat yang paling sering dipalsukan adalah obat-obatan yang permintaannya sangat tinggi di pasar.

Menurut Retno, masih banyak masyarakat yang membeli obat secara eceran di warung atau toko obat pinggir jalan maupun membeli secara online. Ini tanpa memperhatikan kualitas dan keaslian obat yang dibeli.

Oleh karenanya Retno menghimbau masyarakat luas, agar membeli obat di tempat penjualan resmi. Untuk obat keras selalu beli di apotek dengan menggunakan resep dokter. Lihat pula label yang tercantum pada kemasan obat seperti nomor izin edar, nama obat dan alamat produsen serta tanggal kadaluarsa produk.

Berikut Tip agar terhindar dari obat palsu sebagaimana yang disarankan BPOM :

1. Belilah obat-obatan pada sarana resmi seperti apotek untuk obat dengan resep dokter, obat bebas terbatas dan obat bebas, toko obat berizin untuk obat bebas dan terbatas.

2. Tidak membeli obat dengan resep dokter pada sarana toko obat berizin dan toko obat yang lainnya.

3. Perhatikan kemasan obat pada saat membeli obat meliputi :

(1) Nomor izin edar pada kemasan obat, contoh: DTL09044234A1,

(2) Teliti dan lihatlah tanggal kadaluwarsa serta nomor bets produk,

(3) Periksalah kualitas fisik dan keamanan kemasan obat (kemasan masih utuh atau sudah rusak, masih tersegel atau sudah rusak),

(4) Periksalah nama dan alamat produsen, apakah tercantum dengan jelas,

(5) Bacalah keterangan mengenai obat tersebut pada brosur di dalam kemasan obat.

Dalam situs resminya, BPOM juga merilis peredaran obat palsu dan ilegal sepanjang 2013 ini naik sekitar 10 persen. Jadi, waspadalah. Cukup Antok saja yang giginya tambah bengkak setelah minum obat yang dibeli di warung dekat rumahnya. (MD)